Tarot versi Gilded

maka blog ini diberi judul tarot & art. The Gilded Tarot is a digitally drawn and visually sumptous Rider-Waite style tarot from the talented Ciro Marchetti. The 78 card deck is available from Llewellyn as well as in a handmade edition.

Rider-Waite Tarot

The Rider-Waite Tarot is a classic Tarot deck, perhaps the most well-known in the Western world. It is often called the first modern Tarot deck, as the cards drawn by Pamela Colman-Smith and commissioned by Waite were the first to use detailed pictures on the minor arcana cards

A Night Watch

Rembrandt van Rijn

Seni Meracik minuman keras

Para Bartender wanita sedang beradu keahlian meramu koktail

Di Lorong Ku Menatap

Yang ini jelas foto profil saya to

Monday, August 25, 2014

Apa Gunanya Hidup?

Saya baru saja dapat kabar, salah satu klien terbaik saya ternyata telah meninggal beberapa bulan lalu. Saya terlambat mendengar beritanya.
Kaget dan sedih.
Pantas saja saya lama tidak mendengar sapaannya.
Mata saya berkaca-kaca mengenangnya.
Meskipun kami jarang bertemu, kami punya intensitas komunikasi yang bagus,
saling menginspirasi dan menguatkan.
Dia sosok yang begitu baik dan rendah hati.

Lalu tiba-tiba saya menjadi melankolis....
Bayangan saudara, kawan, kenalan, dan orang dekat saya yang meninggal, muncul.
Mereka adalah orang-orang yang pernah menghiasi hidup saya,
membuat warna dalam "adegan film" dunia saya.
Mata saya akhirnya tidak sanggup hanya sekedar berkaca-kaca.

Hidup begitu singkat, tak berbekas.
tidak berarti, tak berguna.
Apalah guna hidup bila demikian?

Tidak akan saya biarkan itu terjadi.
Hidup singkat ini saya yang menjalani.
Akan saya nikmati sehingga terasa indah dan panjang.
Akan saya tinggalkan bekas, arti dan guna untuk yang pergi sesudah saya,
berbagi, menginspirasi dan menguatkan.
(LBP)

Salam anget.


Share:

Inilah Gunanya Memakai Topeng

Untuk suatu keperluan saya mungkin memakai topeng yang menutupi jati diri asli.
Atau tanpa sadar topeng itu terpakai atas nama keadaan.

Begitu terus berulang-ulang dan akhirnya menjadi kebiasaan sekaligus branding atas diri saya.

Lalu tiba-tiba,
mereka,
orang-orang,
seseorang,
ternyata lebih menyukai topeng dan brand saya daripada "the real I am..".

Deg....., rasanya menghentak sampai ke dada saat itu terungkap dan terucap...
Saya tak bisa berkata-kata.

Apa yang Anda pilih?
Kembali ke diri sendiri yang mungkin lebih buruk daripada topeng Anda?
Anda tetap bertahan dengan topeng yang Anda pakai?

Saya lebih memilih memakai topeng.
Ya, mungkin itu palsu.
Tapi bila ini lebih baik dari "the real I am"
setidaknya saya belajar memperbaiki diri sendiri untuk semakin sempurna,
semakin indah,
sehingga semakin mirip dengan topeng yang saya pakai.
(LBP)

Salam anget





Share:

Friday, August 15, 2014

Inilah Caranya Bersikap Obyektif

Benar dan salah,
baik atau buruk,
bergantung pada subyektivitas seseorang.
Saat Anda tidak suka pada orang lain, maka apa pun yang dilakukannya akan tampak buruk di mata Anda.
Sebaliknya, saat simpati muncul, maka mata akan tertutup pada kekurangannya.

Maka sering Anda temukan kasus cinta buta, seseorang yang dibutakan mata hatinya karena terlalu mencintai sang kekasih.
Atau fanatisme idola, terlalu mengagumi seseorang dengan sangat sehingga ketika tokoh idolanya berlaku konyol, pendukungnya tetap mati-matian membela.

Tambah miris lagi bila Anda temui kasus benci berlebihan.
Ini selain merugikan diri sendiri, juga orang lain yang jadi sasaran kebencian.
Pasti pernah Anda temui kasus seperti misalnya seseorang yang begitu benci pada orang lain dan ketika ditanya alasannya,
jawabannya pun dicari-cari.
Atau ketidaksukaan pada seorang publik figur, sehingga tidak bisa melihat dengan hati hal-hal baik yang telah dilakukan sang figur tersebut.
Beberapa orang mampu menilai secara obyektif, selebihnya tidak.

Untuk dapat menilai secara obyektif, gunakanlah indikator norma universal,
norma yang diterima mayoritas orang,
ya, karena memang kebenaran itu selalu berpihak pada suara terbanyak di suatu kelompok masyarakat.

Obyektivitas hanya bisa Anda dapatkan bila Anda sudah bisa melepaskan diri dari keterlekatan pada seseorang dan tidak menggunakan diri sendiri sebagai pembanding atas apa yang dilakukan orang lain.
(LBP)

Salam anget


Share:

Tuesday, August 5, 2014

Revolusi Mental, Tidak Ada Kata Batal

Salah satu adegan film drama............
Seorang wanita sedang menghadapi detik-detik ijab kabul perkawinan dengan seorang pria yang tidak dicintainya.
Dan di saat injury time, munculah sang kekasih, berteriak memanggil mempelai wanita,
lalu sang wanita berlari meninggalkan upacara pernikahan.
Sepasang kekasih itu kabur melarikan diri diiringi tatapan terkejut para tamu undangan.
The end....
Happy ending.
Lalu terucap kata dari bibir Anda (apalagi yang wanita dan jomblo),
"Aih...romantis banget...."

Betul, untuk yang sedang kasmaran, tindakan sang pria menculik kekasihnya tampak begitu romantis dan heroik.
Tapi itu di film, Bung.
Ini tidak realistis.

Bayangkan bila Anda di posisi yang sama, entah sebagai sang pria atau mempelai wanita.
Apakah Anda sanggup merusak suatu pesta pernikahan lalu kemudian menanggung malu dan kebencian dari orang lain demi memenangkan cinta (baca : ego) Anda?
Apakah Anda sanggup mengecewakan keluarga, tamu, dan calon suami Anda di saat pernikahan yang persiapannya bisa makan waktu berbulan bulan
demi memenangkan kekasih (baca : kesenangan) Anda?

Membatalkan sesuatu tidak bisa kapan saja,
tidak bisa semau Anda.
Sebelum Anda memilih, pertimbangkan baik-baik apa dan siapa yang harus Anda menangkan dan prioritaskan.
Maka ketika Anda sudah memutuskan sesuatu, tidak ada kata mundur,
tidak ada istilah batal,
tidak ada alasan pembenaran atas tindakan bodoh Anda yang berakibat terkorbannya orang lain.

*Lalu bila Anda tonton film sampai habis, sebelum credit title akan ada notifikasi,"Cerita ini hanya fiksi belaka, bukan terjadi di dunia nyata. Bila ada kesamaan nama dan tempat hanya merupakan kebetulan..."
(LBP)

Salam anget



Share:

Siapa yang Menang? Siapa yang Curang?

Dalam sebuah kompetisi, menang kalah itu hal biasa.
Yang menang tidak perlu besar kepala dan yang kalah harus berjiwa besar.
Ini konteksnya bila kompetisi dijalankan secara fair dan sportif.
Bagaimana bila sebaliknya?
Siapa pemenang sesungguhnya?


Biasanya yang protes akan suatu proses adalah pihak yang kalah.
Yang menang ya pasti terima-terima saja.
Masing-masing pihak merasa benar dengan sangkaannya dan tentunya merasa menjadi pemenang.
Lalu siapa pemenang sesungguhnya?

Konon, katanya, kebenaran akan selalu menang dan menemukan jalannya.
Jadi bila Anda merasa diri benar, bersabarlah,
akan tiba waktunya kemenangan akan menghampiri Anda.
Begitu?
Padahal bila Anda terus mengucapkan afirmasi yang diulang-ulang,
maka itu akan menjadi "kebenaran" yang Anda yakini.
Anda yakin bahwa Anda benar,
Anda yakin bahwa Anda lah pemenangnya,
Anda yakin bahwa Anda telah dicurangi sehingga kalah.
Lalu siapa pemenang sesungguhnya?

Benarkah ada suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran yang menyebabkan Anda kalah,
atau sebenarnya Anda benar-benar kalah tapi tidak bisa menerima kekalahan tersebut?

Yang berteriak paling nyaring, dia bukanlah pemenang.
(LBP)

Salam anget




Share:

Monday, August 4, 2014

Marilah Menyembah dan Mencium Pantat


Suatu pagi pintu rumah saya diketuk orang. Waktu saya buka ada seorang lelaki muda berjenggot ditemani perempuan berparas cantik dan mereka berpakaian rapi. Si lelaki berbicara lebih dulu:

Arif: “Salam sejahtera! Kenalkan, nama saya Arif dan ini saudari Dedeh”
Dedeh: “Salam! Kami datang untuk menyampaikan kabar gembira. Kami mengundangmu untuk bersama-sama mencium bokong Burhan!”

Saya: (terkesiap) “Apaaa?! Kalian ngomong apa, sih? Burhan itu siapa? Buat apa saya cium bokongNya?”
Arif: “Kalau kamu cium bokong Burhan, Dia akan kasih kamu 10 Trilyun Rupiah; tapi kalau kamu nggak mau, Dia akan menghajarmu.”

Saya: “Hmmm…. Ini proyek cuci uang hasil ngerampok nasabah Citipubank yang lagi heboh itu ya?”
Arif: “SALAH! Gini, ya. Burhan itu super kaya dan sangat baik hati. Dialah yang memiliki kota ini. Dia mampu membuat apapun yang Dia mau, dan Dia ingin berbagi kekayaan, keselamatan dan kebahagiaan dengan setiap orang. Tapi kamu harus mencium bokongNya dulu.”

Saya: “Iiih… Aneh banget. Kok gitu sih?!”
Dedeh: (memotong) “Hey, kamu siapa berani-beraninya meragukan Burhan?! Kamu nggak mau dapat 10 Trilyun?! Itu imbalan luar biasa untuk mencium bokong!”

Saya: “Ya… Menarik, sih.
Arif: “Kalau begitu ayo cium bokong Burhan bersama kami!”
Saya: “Sebentar… Kalian sering mencium bokong Burhan?”
Arif: “Tentu, sesering mungkin!”
Saya: “Terus? Kalian sudah dapat uang trilyunannya?”
Arif: “Ya belum, dong. Aturannya gini: uangnya nggak bakal dikasih sebelum kita pergi dari kota ini.”
Saya: “Lantas kenapa sekarang kalian nggak pergi-pergi?”
Dedeh: (berusaha menjelaskan) “Kita nggak bisa pergi sebelum disuruh Burhan. Kalau nekat pergi sebelum waktunya, kita nggak dapat uangnya dan Burhan akan menghajar kita.”

Saya: “Oooh, gitu ya? Kalian kenal orang yang sudah menciumi bokong, pergi dari sini, terus dapat uang itu?”

Arif: “Ibu saya menciumi bokong Burhan selama bertahun-tahun. Tahun kemarin beliau pergi meninggalkan kota seizin Burhan, dan saya yakin beliau sedang senang-senang dengan uangnya sekarang.”

Saya: “Sejak ibumu pergi kamu pernah kontak dengan beliau?”
Arif: “Nggak, lah! Dilarang Burhan.”
Saya: “Terus, gimana kamu bisa yakin Burhan benar-benar memberikan uangnya jika kalian nggak pernah ngobrol dengan siapapun yang pernah mendapatkannya?”

Dedeh : “Sebenarnya, sedikit-sedikit Burhan sudah memberi ke kita sebelum kita pergi. Kadang gaji kita naik, atau kita menang arisan, atau sekadar nemu duit di jalan.”

Saya: “Lho, apa hubungannya sama Burhan?”
Arif: “Burhan itu punya semacam ‘hubungan’. Dia seperti dalang agung dibalik berbagai keberuntungan yang biasa kita anggap sebagai kebetulan”.

Saya: “Mohon maaf, tapi itu seperti otak-atik gathuk yang kelewat maksa.”
Arif: “Saudaraku, ini 10 Trilyun lho! Ini kesempatan bagus! Dan ingat, jika kamu nggak mau cium bokongNya, Dia akan menghajarmu, mengazabmu!”

Saya: “Aduh… Gini aja deh. Kalau kamu ketemu langsung sama Burhan, tolong minta penjelasan detailnya. Gitu kan lebih enak.”

Arif: “Oooo… Nggak bisa. Burhan itu tak terlihat dan nggak bisa diajak ngobrol.”
Saya: “Lha terus gimana mau cium bokongNya kalau ketemu saja nggak bisa?!”
Arif: “Kadang-kadang kami sun jauh sambil membayangkan bokongNya. Atau kami cium bokong Pak Teguh, dan beliau yang nantinya menyampaikan ciuman itu.”

Saya: “Bokong Pak Teguh? Siapa pula Pak Teguh itu?!”
Dedeh: “Beliau itu teman dan guru pembimbing kami. Berkat beliau, kami paham bagaimana cara mencium bokong yang baik dan benar. Tanpa harus bayar mahal, cukup mengamplopi seikhlasnya saja.”

Saya: “Dan kenapa kalian sangat percaya pada ucapan Pak Teguh yang berkata bahwasanya ada Burhan yang menginginkan kalian mencium bokongNya dan akan memberi uang?”

Arif: “Karena Pak Teguh sudah berpuluh-puluh milennium memegang selembar surat dari Burhan yang menjelaskan segalanya. Ini saya punya salinannya, silahkan dibaca.”

"Keterangan Resmi dari Teguh
ciumlah bokong Burhan dan Dia akan memberimu 10 T saat kamu meninggalkan kota
Gunakan alkohol seperlunya
Hajarlah orang yang tidak seiman denganmu
Makanlah dengan benar
Burhan mendiktekan langsung surat ini
Bumi itu datar
Maha benar Burhan dengan segala ucapanNya
Cucilah tangan setelah cebok
Jangan gunakan Alkohol
Makanlah roti tawar dengan meses, tanpa tambahan
Ciumlah bokong Burhan, jika tidak, Dia akan murka dan mengazabmu"


Saya: “Kok kepala suratnya atas nama Pak Teguh?”
Dedeh: “Ya memang! Burhan yang mendikte, Pak Teguh yang menulis.”
Saya: “Katanya nggak ada yang bisa lihat Burhan? Kenapa Pak Teguh bisa?”
Dedeh: “Sekarang sih nggak. Tapi duluuu sekali Burhan bicara langsung pada beberapa orang.”
Saya: “Hooo… Oke. Eh, tadi kamu bilang, Burhan itu penuh kasih. Tapi penuh kasih gimana jika Dia bakal menghajar orang yang tak mau mencium bokongNya?! Kasih macam apa yang menghajar orang yang berbeda pendapat?”

Dedeh: “Burhan bebas berkehendak, Dia selalu benar.”
Saya: “Kenapa bisa gitu?”
Dedeh: “Mari buka mata, ayo buka hati. Bacalah ayat ke-7. Di situ disebutkan dengan sangat jelas ‘Maha benar Burhan dengan segala ucapanNya’ dan itu sudah cukup!”

Saya: “Jangan-jangan isi surat itu hanya khayalan Pak Teguh saja.”
Arif: “Saudaraku, jangan biarkan prasangka buruk menggelapkan hati kita. Kan sudah jelas, di ayat ke-5 dikatakan bahwa Burhan mendiktekanNya sendiri. Lagi pula, ada banyak hal yang membuktikan kebenaran surat suci ini. Misal, ayat 2, ‘gunakan alkohol seperlunya’, ayat 4 ‘makanlah dengan benar’ dan ayat 8 yang menganjurkan cuci tangan setelah cebok. Anak kecil juga tahu bahwa itu semua adalah anjuran yang baik dan benar, dan itu bukti bahwa semua yang disampaikan lembar suci ini adalah kebenaran!”

Saya: “Tapi ayat 9 melarang alkohol dan nggak sejalan dengan ayat 2. Dan di ayat 6, bumi datar. Plis deh. Bumi itu bulat.”

Arif: “Saudaraku, ayat 2 dan 9 itu justru saling menerangkan. Dan soal datarnya bumi, apa sudah pernah keliling bumi?”

Saya: “Belum sih, tapi saya pernah naik pesawat yang terbang tinggi sekali, dan dari jendela memang terlihat kalau bumi bulat.”

Arif: “Itu pasti konspirasi keji. Mungkin jendelanya sudah dipasangi LCD yang menampilkan ilusi menyesatkan. Di ketinggian itu kamu pasti belum pernah mengeluarkan kepala dari pesawat dan melihat bentuk bumi secara langsung, kan?”

Saya: “Ya belum sih.”
Arif: “Ha! Akhirnya kamu mengakui kalau kamu tidak tahu. Pengetahuan kita memang terbatas. Karenanya, yakinlah apa kata Burhan. Dia pasti benar.”

Saya: “Kenapa pasti benar?”
Arif: “Iya dong, pasti benar. Lihat lagi itu ayat 7. Jelas-jelas dikatakan begitu. Pikiran yang dipengaruhi iblis memang bikin kita pelupa.”

Saya: “Oooh… Jadi kalian yakin Burhan selalu benar karena surat suci ini bilang begitu? Padahal kita tahu Burhan sendiri yang mendiktekan karena suratnya juga bilang begitu. Ini seperti mengatakan Burhan benar karena dia bilang dirinya benar!”

Arif: “Akhirnya kamu paham juga! Menyenangkan melihat Burhan membuka hati dan menumbuhkan pemahaman!”

Saya: “Tapi itu logika berputar!!!”
Arif: (mengangkat alis) “Burhan memang keren.”
Saya: “Lho??? Tapi… Ah! Sudahlah. Terus, kenapa roti tawar harus pakai meses?”
Dedeh: (merona)

Arif: “Roti tawar, pakai meses, nggak pakai apa-apa lagi. Itulah tuntunan Burhan. Cara selain itu adalah sesat.”

Saya: “Kalau nggak ada meses?”
Arif: “Roti tawar ya harus pakai meses. Meses tanpa roti itu sesat”.
Saya: “Kalau diselipi sosis? Keju boleh?”
Dedeh: (wajahnya menjadi tegang)
Arif: (mulai berteriak) “Jangan keterlaluan! Penambahan apapun itu terlarang! Sesat! “
Saya: “Jadi kalau roti tawar tidak pakai meses tapi diganti sosis goreng, diberi saus pedas, dikasih selembar keju dan sayuran, terus dioven dulu sebentar, itu nggak boleh ya?

Dedeh: (menutup telinganya, bersenandung) “Saya nggak dengar, saya nggak dengar… la la la la la la…”
Arif: “Itu menjijikkan! Hanya antek iblis jahanam yang makan makanan seperti itu…”
Saya: “Tapi rasanya enak, lho! Saya sering makan seperti itu untuk sarapan.”

Dedeh: (jatuh pingsan)

Arif: (menangkap tubuh Dedeh yang lunglai dan membawanya masuk mobil dengan raut wajah marah lalu kembali) “Jika saja saya tahu kamu itu orang seperti itu, saya nggak bakal repot-repot! Nanti saat Burhan menghajarmu, saya akan ada disebelahNya, tertawa sambil menghitung uang yang saya dapat. Saya akan menciumi bokong Burhan untukmu, dasar kamu pemakan roti sosis panggang!”

*****




Share:

Tuesday, July 15, 2014

Benarkah Ashkenazi Bukan Yahudi Asli Keturunan Israel? (2)

1374644829791500935
Peta Khazaria zaman dulu fotofreewebs.com

Selain surat menyurat antara Hasdai Ibnu Shaprut dan Raja Joseph Ben Aaron, Koestler juga membahas tentang karakteristik bangsa Khazar yang merupakan campuran bangsa Eropa dan Asia. Sebagian besar berkulit putih, tinggi, rambut pirang atau merah, mata kecil (sipit) dan berwarna biru. Kata Khazar sendiri berasal dari bahasa Turki yang artinya pengembara atau nomad. Bangsa Khazar termasuk bangsa yang kuat, tangguh, suka berperang dan ditakuti oleh bangsa-bangsa lain disekitarnya.

Tak lama setelah nabi Muhammad meninggal terjadi perang antara bangsa Arab dan bangsa Khazar yaitu pada tahun 642 dan tahun 652. Tapi kedua perang itu dimenangkan oleh bangsa Khazar bahkan pada peperangan yang kedua bangsa Arab menderita kekalahan yang telak konon 4000 prajuritnya tewas termasuk pemimpinya, Abdal Rahman Ibnu Rabiah.

Pada tahun 722-737 dimasa pemerintahan Khalifah Marwan II terjadi lagi peperangan antara bangsa Arab dan bangsa Khazar yang dipimpin oleh Jendral Maslamah Ibnu Abdul Malik. Perang kali ini dimenangkan oleh bangsa Arab dan Khalifah Marwan saat itu menawarkan raja Khazar untuk masuk Islam. Tapi karena posisi kerajaannya diapit oleh dua kekuatan besar Islam dan Kristen, raja Khazar saat itu tidak bisa memilih salah satu dari kedua agama itu. Kebetulan di Khazaria saat itu ada komunitas kecil bangsa Yahudi. Setelah diskusi dengan ketiga pemuka agama tersebut, tahun 740 raja Khazar memutuskan untuk memilih agama Yahudi.

Ada kemungkinan raja Khazar memilih agama Yahudi untuk menjaga netralitas dan taktik politik karena posisinya yang terjepit diantara dua kekuatan besar Kristen dan Islam. Pada tahun 740 diperkirakan jumlah penduduk Khazar saat itu 1,4 juta dan bangsa Yahudi sekitar 50.000 orang. Inilah salah satu jawaban kenapa tiba-tiba bangsa Yahudi yang jumlahnya sangat sedikit, tiba-tiba jumlahnya mencapai jutaan saat perang dunia kedua karena mereka sudah bercampur dengan bangsa Khazar.

1374646711393582168
Ilustrasi bangsa Viking dengan 2 tanduk dikepala dan senjata khasnya, kapak foto wallpaperup.com

Koestler juga menceritakan beberapa orang yang pernah mengembara hingga ke Khazaria misalnya utusan kaisar Romawi Priscus, Al Masudi, Rabbi Petachia, Ahmad Ibn Fadlan, dll. Tapi yang paling menarik adalah kisah perjalanan Ahmad Ibnu Fadlan (Juni 921-Mei 922) yang mendapat porsi lebih banyak dibukunya dibanding yang lain. Pada saat itu bangsa Bulgar mengirim surat pada Khalifah untuk meminta diajarkan Islam dan membangun dinding penghalang antara bangsa Khazar dan bangsa Bulgar karena bangsa Khazar sering membuat onar dan menganggu bangsa Bulgar. Lalu Khalifah mengutus Ahmad Ibnu Fadlan untuk mengajarkan Islam dan melindungi Bangsa Bulgar dari serangan bangsa Khazar.

Catatan perjalanan Ahmad Ibnu Fadlan ini menarik untuk disimak karena mirip kisah Zulqarnayn dan Ya’juj Ma’juj. Ahmad Ibnu Fadlan menceritakan bahwa dia pernah bertemu dengan suku bangsa yang bahasanya sulit dimengerti bagaikan katak sedang bicara. Bertemu bangsa Viking yang memakai hiasan dua tanduk dikepalanya dan menyaksikan penguburan raja Viking lengkap dengan kapalnya.

Ibnu Fadlan juga mengisahkan bagaimana dia mengajarkan Islam pada bangsa Bulgar dan bangsa-bangsa disekitarnya. Ada kisah lucu ketika salah satu bangsa bertanya padanya, “Bagaimana caranya masuk Islam?” Ibnu Fadlan menjawab, cukup mengucapkan” Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad utusan Allah!” Jawaban Ibnu Fadlan itu disambut tertawa bangsa itu, mereka menjawab,“Jika semudah itu kami akan melakukannya!”. Diceritakan juga bahwa raja Khazar saat itu yang disebut Great Kagan, punya 25 istri dan 83 selir dan berbagai kisah lainnya. Pada saat Ibnu Fadlan singgah di Khazaria, Raja dan seluruh penduduknya sudah menganut agama Yahudi.

Sementara itu disisi lain Bangsa Viking yang berasal dari Scandinavia yang juga dikenal dengan sebutan bangsa “Rhos” atau “Varangians”, semakin lama semakin kuat dan terus menerus memperluas wilayah kekuasaanya. Pada tahun 833 Kagan Khazar mengirim utusan ke kaisar Roma, Theohilus untuk minta bantuan membangun benteng disekitar kerajaan Khazaria untuk menahan serangan bangsa Viking. Benteng itu terkenal dengan sebutan Sarkel dan menjadi peninggalan sejarah bangsa Khazar.

13746469272055148451
Sarkel foto Khazaria.com

Saat Sarkel dibangun, bangsa Viking terus berperang menaklukan wilayah baru mulai dari Irlandia, Normandia, sebagian Paris dan Jerman hingga daerah sekitar laut hitam dan laut Caspia. Setelah menyebrangi Baltic dan teluk Finlandia mereka menemukan tempat untuk menetap di Novgorov. Setelah menetap dan berkembang biak pada abad ke 10 nama Rhos berubah menjadi Russia. Bangsa ini meniru cara bangsa Khazar dalam menamai Rajanya karena mereka punya raja yang dinamai Kagan Rus.

Pada tahun 965 kerajaan Rusia menyerang kerajaan Khazar dan bangsa Khazar kalah dalam peperangan itu. Hancurlah kejayaan bangsa Khazar dan akibat dari perang itu banyak bangsa Khazar bermigrasi ke Hungaria, Polandia, Rusia dan negara Eropa lainnya.

Selain banyak mengisahkan sejarah bangsa Khazar dan beberapa bangsa lain. Yang paling menarik adalah, di buku Koestler ini menceritakan tentang seorang Yahudi Khazar pada abad 12 bernama Solomon Ben Duji yang didukung oleh anaknya Menahem ben Solomon, Mereka mengirim surat pada seluruh bangsa Yahudi disekitarnya yang menyatakan bahwa saatnya telah tiba. Tuhan akan membimbing Israel untuk menuju Jerusalem. Menahem merubah namanya jadi David Alroy, selain berambisi untuk menggiring bangsa Yahudi kembali ke Jerusalem, David dikenal memiliki kemampuan supranatural. Dia mulai mengumpulkan pasukan untuk menyerbu tanah suci Jerusalem.

Tapi sebagian rabbi tidak setuju dengan David. Suatu malam David Alroy diracuni oleh mertuanya sendiri. Tapi gerakan yang diprakarsai David ternyata tidak musnah. Ketika Benyamin Tulledo berkelana ke Persia 20 tahun kemudian, kisah David Alroy ini sering diceritakan dikalangan Yahudi konon symbol bintang yang menjadi symbol bendera Israel saat ini adalah tanda untuk menghormati David Alroy.

Koestler mengakhiri bukunya dengan kalimat (*terjemahan), 
“Saya sadar buku ini bisa menimbukan salah interpretasi dan dianggap menolak keberadaan negara Israel. Negara israel berdiri bukan berdasarkan perjanjian antara Tuhan dan Abraham atau asal usul bangsa Yahudi, tapi berdasarkan keputusan sah Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1947 tentang pembagian wilayah Palestina. Apakah kromosom rakyatnya mengandung gen dari Khazar atau Semit, asal Romawi atau Spanyol,  hal itu sudah tidak relevan dan tidak dapat mempengaruhi hak Israel untuk eksis. Keberadaan Israel sudah tidak bisa diganggu gugat, kecuali dengan Genocide!” 

Itulah sebagian kisah yang tertulis dalam buku “The Thirteenth Tribe” karya Arthur Koestler. Untuk membaca buku lengkapnya silahkan klik link ini

Benarkah Ashkenazi Bukan Yahudi Asli Keturunan Israel? (1)


Sumber
Ansara http://sejarah.kompasiana.com/2013/07/24/benarkah-ashkenazi-bukan-yahudi-asli-keturunan-israel-2-576243.html
Share:

Definition List

Unordered List

Support