Tarot versi Gilded

maka blog ini diberi judul tarot & art. The Gilded Tarot is a digitally drawn and visually sumptous Rider-Waite style tarot from the talented Ciro Marchetti. The 78 card deck is available from Llewellyn as well as in a handmade edition.

Rider-Waite Tarot

The Rider-Waite Tarot is a classic Tarot deck, perhaps the most well-known in the Western world. It is often called the first modern Tarot deck, as the cards drawn by Pamela Colman-Smith and commissioned by Waite were the first to use detailed pictures on the minor arcana cards

A Night Watch

Rembrandt van Rijn

Seni Meracik minuman keras

Para Bartender wanita sedang beradu keahlian meramu koktail

Di Lorong Ku Menatap

Yang ini jelas foto profil saya to

Showing posts with label filsafat. Show all posts
Showing posts with label filsafat. Show all posts

Tuesday, June 19, 2018

Tuhan Bingung?

Tuhan bingung?

Tim sana berdoa khusyuk, sekian puluh orang,
ditambah sekian juta warga negaranya.
Tim satunya lagi berdzikir,
sekian puluh orang juga ditambah sekian juta pendukungnya.
Semuanya ingin menang,
semuanya ingin jadi juara.

Tuhan ada banyak.
Para Tuhan ini saling bersaing,
berkelahi, beradu kekuatan,
demi mengabulkan doa-doa penganutnya yang sangat bersungguh-sungguh.
Maka tim yang menang adalah yang Tuhannya paling kuat,
yang agamanya paling benar.
Yang kalah berarti Tuhan dan agama lainnya palsu.
Oke, 
mari kita memeluk agama yang benar yang Tuhannya kuat dan bisa mengalahkan Tuhan lain.

Tuhan hanya ada satu.
Tuhan yang Maha Eka ini akan melihat dan menimbang, 
umat mana yang layak dikabulkan doanya.
Lalu ini akhirnya menjadi adu doa, adu cari muka ke Tuhan.
Yang lebih ekstrim lagi, HANYA AGAMA YANG PALING BENAR saja yang doanya dikabulkan.
Agama palsu lainnya, tidak akan dikabulkan.
Oke, 
mari kita memeluk agama yang umatnya menang piala dunia,
menang pilkada/pilpres,
menang kompetisi, dan yang paling sukses,
karena keberhasilan mereka disebabkan memeluk AGAMA BENAR,
agama lainnya palsu dan kitab sucinya DIUBAH.

Tuhan tidak ada.
Tidak ada itu Tuhan, tidak perlu itu doa.
Semuanya bekerja berdasarkan hukum alam.
Ada sebab akibat.
Ada hukum tabur tuai.
Sangat adil.
Tim yang berlatih paling keras dengan pelatih yang hebat, maka tim tersebut yang akan menang.
Oke,
mari kita buang agama di tong sampah,
karena sama sekali tidak berguna, 
fiksi, mitos,
dan pembodohan.

Tuhan hanya penonton.
Tim A menggolkan bola, Tuhan tepuk tangan.
Tim B membalas gol pun, Tuhan tepuk tangan.
Seberapa khusyuk doamu,
Tuhan hanya mendengar dan menonton.
Tuhan tidak ikut campur tangan dalam kehidupan.
Manusia punya kehendak bebas,
manusia bebas memilih dan melakukan apa pun dengan segala konsekuensinya sesuai dengan hukum alam.
Tuhan hanya menyediakan dan menyelenggarakan.
Oke,
mari lakukan hal yang terbaik,
bekerja baik,
hidup baik,
tidak menyakiti orang lain dan diri sendiri,
karena Tuhanmu hanya melihat proses lalu mengapresiasi hasil
tanpa bertanya apa TIM mu, apa agamamu,
apa yang aku sembah.

Orang yang katanya bijak berkata,
hidup itu cuma sebentar, yang penting adalah akhirat.
Oke, 
silakan berangkat ke surga lebih dulu dan sesegera mungkin.

**
Seorang ibu-ibu tetangga saya pompa airnya mati, lalu meminta air ke rumah saya.
Bebas, Bu. Silakan ambil air secukupnya, tidak usah sungkan, kata saya ke Ibu tersebut.

"Aduuuh...terima kasih, Mas. Semoga semua kebaikannya dibalas, mendapat pahala dan surga dari Allah." kata Ibu tersebut.

Ibu yang baik, saya memberikan air untukmu hanya karena saya mau, agar Ibu bisa mandi dan memasak untuk keluarga. 
Hanya itu.
Saya tidak mencari pahala.
Saya tidak butuh surga.
Saya tidak mengharap balasan.
Kalau pun Tuhan ada, biarkan Beliau menonton saja.
Surga dan neraka BUKAN URUSAN saya.
Saya hanya berusaha berlaku sebaik mungkin,
agar damai bersama saya dan orang di sekitar dalam hidup.
Sisanya, itu urusan Tuhan atau alam semesta yang memberlakukan hukumnya.

Salam anget



Share:

Saturday, July 15, 2017

Agama Ini Mengajarkan Kebencian?


Eksternal HD saya sudah penuh dengan film-film box office pilihan. Tidak ada ruang kosong lagi.
Kalau ada film bagus yang mau saya isikan, terpaksa harus menghapus film lama.
Tapi tentu saja harus film bagus. Kalau film jelek, saya tidak akan rela menghapus yang lama.
Atau ada pilihan lain, membeli eksternal HD yang baru. Bisa saja.
Suatu wadah yang sudah penuh, tidak akan bisa diisi lagi dengan yang baru,
kecuali menambah wadah yang baru atau membuang isi lama.

Melompat ke topik lain,
ada orang-orang yang rajin melakukan ritual agamanya, rutin beribadah, sering berdoa.
Yang lucu, misalnya, ada orang setelah selesai misa,
di luar gereja bisa bertengkar dengan orang lain bersumpah serapah hanya gara-gara mobilnya tidak bisa keluar parkiran terhalang mobil lain.
Yang aneh, misalnya, ada orang yang rajin shalat lima waktu,
tapi begitu mudahnya berteriak-teriak menghina orang lain yang tidak sealiran dengannya.
Yang miris, misalnya, pemuka agama yang harusnya adalah manusia "sempurna",
tapi tetap melakukan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain,
melanggar hukum,
atau memprovokasi pengikutnya agar membenci orang lain.
Lalu apa gunanya "rajin ibadahnya"?

Yang salah agamanya? Saya yakin tidak.
Yang salah pemahamannya? Bisa jadi demikian.
Salah memahami ajaran agamanya.
Salah menafsirkan kitabnya.
Salah menerapkan kepercayaannya.

Saya yakin Dia adalah cinta. Maha cinta.
Dengan demikian, saya yakin pula bahwa Dia tidak akan mengajarkan sesuatu yang berlawanan dengan cinta.
Bila benar menjalankan ibadah karena Dia,
bila benar memahami ajaran Dia,
bila benar menerapkan kitab Dia,
bila benar menerapkan kepercayaan akan Dia,
maka tidak akan mungkin ada tempat untuk kebencian.
Ini yang saya yakin, mungkin Anda punya prinsip berbeda.


Ketika Anda sudah sangat mencintai seseorang, masikah ada ruang di hati untuk membencinya?
Bisa saja, dengan membuang cinta lama, lalu menggantinya cemburu dan sakit hati.
Lalu apakah saya mau "mendelete film bagus" demi ada ruang untuk "film buruk"?
Masikah ada ruang dalam hati untuk membenci orang lain bila sudah penuh akan cinta pada Dia?
Apakah Anda mau membiarkan hal baik dalam hati karena Dia, dihapus demi sesuatu yang jelek?


Salam anget


Share:

Friday, April 15, 2016

Hidup Setelah Mati?

Banyak orang percaya adanya kehidupan setelah kematian. Hampir kebanyakan kepercayaan meyakini hal yang sama.
Dan seruan peringatan agar manusia tidak berbuat "dosa" versi kepercayaannya adalah :
"Ingat mati...!!"


Mungkin mereka berpendapat bahwa dunia ini fana dan akhirat adalah nyata.
Mungkin tujuannya baik supaya yang hidup bisa lebih bermoral.
Mungkin mereka ingin agar manusia taat beribadah dengan ancaman neraka.
Mungkin juga karena mungkin mungkin yang lain.
Tidak salah mengingatkan orang akan kematian, bahwa hidup ini sementara, atau lebih penting "kehidupan" nanti setelah mati,
daripada kehidupan sekarang yang sementara.

Padahal,
menurut saya,
lebih baik orang ingat akan hidup.
Karena dengan ingat hidup, Anda akan membuat tujuan yang realistis dan nyata.
Dengan ingat hidup, Anda sadar bahwa harus selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengembangkan diri.
Dengan ingat hidup, Anda akan lebih bertanggung jawab atas diri orang lain terutama yang menjadi tanggungan hidup Anda.
Dengan ingat hidup, Anda tidak akan terjebak pada keegoisan akan candu "surga" setelah mati yang HANYA Anda "nikmati" sendiri.

Adakah atau bagaimanakah hidup setelah mati, itu urusan nanti.
Tidak ada yang tahu berapa lama manusia hidup.

Salam anget
Share:

Monday, December 14, 2015

Cara Menyembah Allah

Sekelompok orang menyembah Allah karena menghasratkan ganjaran;
ini ibadah 'pedagang'.

Kelompok lain beribadat karena takut;
ini ibadah 'budak'.

Suatu kelompok lagi menyembah Allah karena rasa syukur dan terima kasih;
ini ibadah orang 'merdeka'.

Kebaikan bukanlah kebaikan bila setelah itu ada Neraka;
dan kesulitan bukanlah kesulitan bila sesudah itu ada Surga.
Setiap kebahagiaan selain surga adalah kecil dan setiap bencana selain neraka adalah kesenangan.

(Imam Ali)
Share:

Wednesday, April 15, 2015

Macam-macam Malaikat?



Tuhan mengirimkan malaikat,
bukan hanya untuk menjaga dan melindungi Anda.
Tapi juga untuk menghukum atas dosa dan kesalahan Anda di masa lalu.
Setiap orang adalah malaikat bagi orang lain, yang mempunyai tugas berbeda.
Anda adalah malaikat bagi sesama.

Pilihannya di tangan Anda,
apakah akan menjadi malaikat yang menjaga, melindungi, dan membahagiakan orang lain,
atau,
menjadi malaikat yang "menghukum" orang lain dengan menyakiti, melukai, bahkan mungkin mencabut nyawa.

Malaikat macam apakah Anda ini?
(LBP)

Salam anget
Share:

Inilah Caranya Balas Dendam Yang Aman

Tiap orang punya emosi,
rasa marah,
sakit hati,
cemburu,
dendam,
benci,
semua sama.
Manusia normal pasti memiliki perasaan seperti itu.
Yang membedakannya adalah bagaimana cara mengungkapkannya.


Anda bisa saja langsung melabrak orang ketika marah.
Atau mencacimaki orang yang membuat Anda sakit hati.
Bisa. Anda bisa pilih itu.

Tapi ada pilihan lain.
Tersenyum dan tidak membiarkan emosi itu mengontrol pikiran Anda.

Iya, mungkin tidak ada yang berubah ketika Anda tersenyum.
Setidaknya Anda tidak menghabiskan energi dan stress karenanya.
Hukum alam bekerja...
Apa yang Anda tanam, itu yang akan Anda petik.
Biarkan alam yang bekerja.
Siapa pun yang menyakiti, suatu ketika akan membayar sakit hati Anda tanpa perlu campur tanganmu.
(LBP)

Salam anget
Share:

Karma? Azab? Hutang Dosa di Masa Lalu?

Yang terpikir dalam benak Anda saat ada orang yang menyakiti hati,
mungkin,
semoga kelakuan dia terbalas,
semoga karma menimpanya,
semoga Allah memberikan azabnya,
dan banyak harapan lain akibat sakitnya hati Anda.


Semua harapan-harapan itu muncul karena ketidakberdayaan Anda untuk membalas sakit hati pada orang tersebut.
Atau mungkin Anda ingin tampil sebagai orang bijak yang tidak suka membalas dendam, dan membiarkan tangan Anda bersih dengan meminjam tangan Allah
untuk membalas sakit hati Anda.

Percayalah, semua perbuatan buruk selalu ada balasannya.
Apa pun kepercayaan Anda, selalu berlaku hukum ini.
Hal buruk yang sudah Anda lakukan adalah "hutang" yang harus Anda bayar.
Dan mungkin ketika ada orang yang sedang menyakiti Anda,
sebenarnya Anda sendiri sedang membayar hutang perbuatan buruk yang pernah Anda lakukan pada orang lain.
Anda mungkin sedang menerima azab,
Anda mungkin sedang memetik buah yang Anda tanam dulu,
Anda mungkin sedang merasakan karma perbuatan masa lalu.

Maka, ketika ada hal buruk menimpa Anda, lupakan sakit hati,
lupakan dendam,
lupakan pembalasan,
tengadahlah ke atas sambil berkata,
"Ya Tuhan, impas ya hutangku, kalau belum impas, anggap ini sebagai cicilan.
Terima kasih Tuhan..."
(LBP)

Salam anget
Share:

Monday, August 25, 2014

Apa Gunanya Hidup?

Saya baru saja dapat kabar, salah satu klien terbaik saya ternyata telah meninggal beberapa bulan lalu. Saya terlambat mendengar beritanya.
Kaget dan sedih.
Pantas saja saya lama tidak mendengar sapaannya.
Mata saya berkaca-kaca mengenangnya.
Meskipun kami jarang bertemu, kami punya intensitas komunikasi yang bagus,
saling menginspirasi dan menguatkan.
Dia sosok yang begitu baik dan rendah hati.

Lalu tiba-tiba saya menjadi melankolis....
Bayangan saudara, kawan, kenalan, dan orang dekat saya yang meninggal, muncul.
Mereka adalah orang-orang yang pernah menghiasi hidup saya,
membuat warna dalam "adegan film" dunia saya.
Mata saya akhirnya tidak sanggup hanya sekedar berkaca-kaca.

Hidup begitu singkat, tak berbekas.
tidak berarti, tak berguna.
Apalah guna hidup bila demikian?

Tidak akan saya biarkan itu terjadi.
Hidup singkat ini saya yang menjalani.
Akan saya nikmati sehingga terasa indah dan panjang.
Akan saya tinggalkan bekas, arti dan guna untuk yang pergi sesudah saya,
berbagi, menginspirasi dan menguatkan.
(LBP)

Salam anget.


Share:

Tuesday, August 5, 2014

Revolusi Mental, Tidak Ada Kata Batal

Salah satu adegan film drama............
Seorang wanita sedang menghadapi detik-detik ijab kabul perkawinan dengan seorang pria yang tidak dicintainya.
Dan di saat injury time, munculah sang kekasih, berteriak memanggil mempelai wanita,
lalu sang wanita berlari meninggalkan upacara pernikahan.
Sepasang kekasih itu kabur melarikan diri diiringi tatapan terkejut para tamu undangan.
The end....
Happy ending.
Lalu terucap kata dari bibir Anda (apalagi yang wanita dan jomblo),
"Aih...romantis banget...."

Betul, untuk yang sedang kasmaran, tindakan sang pria menculik kekasihnya tampak begitu romantis dan heroik.
Tapi itu di film, Bung.
Ini tidak realistis.

Bayangkan bila Anda di posisi yang sama, entah sebagai sang pria atau mempelai wanita.
Apakah Anda sanggup merusak suatu pesta pernikahan lalu kemudian menanggung malu dan kebencian dari orang lain demi memenangkan cinta (baca : ego) Anda?
Apakah Anda sanggup mengecewakan keluarga, tamu, dan calon suami Anda di saat pernikahan yang persiapannya bisa makan waktu berbulan bulan
demi memenangkan kekasih (baca : kesenangan) Anda?

Membatalkan sesuatu tidak bisa kapan saja,
tidak bisa semau Anda.
Sebelum Anda memilih, pertimbangkan baik-baik apa dan siapa yang harus Anda menangkan dan prioritaskan.
Maka ketika Anda sudah memutuskan sesuatu, tidak ada kata mundur,
tidak ada istilah batal,
tidak ada alasan pembenaran atas tindakan bodoh Anda yang berakibat terkorbannya orang lain.

*Lalu bila Anda tonton film sampai habis, sebelum credit title akan ada notifikasi,"Cerita ini hanya fiksi belaka, bukan terjadi di dunia nyata. Bila ada kesamaan nama dan tempat hanya merupakan kebetulan..."
(LBP)

Salam anget



Share:

Wednesday, March 12, 2014

Tuhan Hanyalah Penonton


Banyak sebutan untuk Tuhan pada setiap kepercayaan.Berbagai konsep tentang Sang Maha pun diuraikan.
Salah satunya adalah soal takdir.

Mayoritas penganut theis berpandangan bahwa Tuhan yang menentukan takdir manusia, menentukan apa yang terjadi pada manusia,
semuanya sudah digariskan, semuanya sudah ditentukan.
Kelahiran, jodoh, rejeki, kehidupan, kematian, semua sudah diatur.
Manusia hanya tinggal menjalaninya.
Mungkin itu benar, berdasarkan ajaran yang dianutnya.
Yang jelas, tidak ada satu manusia hidup yang pernah bertemu secara fisik dengan Tuhan, saat ini.

Secara subyektif saya berpandangan secara berbeda.
Tuhan bagi saya hanyalah penyelenggara.
Kelahiran dan kematian, Tuhan lah yang menentukan. Karena kita tidak bisa memilih kapan, dimana, dan jadi siapa saat kita lahir.
Selebihnya, Tuhan adalah "penonton" pada drama kehidupan manusia.

Jodoh, Tuhan menyediakan jodoh untuk kita. Mendapat jodoh atau tidak, tergantung seberapa besar usaha untuk mendapatkan.
Rejeki, Tuhan menyediakan ladang untuk kita petik. Besarnya rejeki tergantung seberapa pintar dan kemauan kita untuk memanennya.

Pada suatu pertandingan bola, masing-masing tim berdoa untuk kemenangannya. Siapa yang Tuhan bela?
Tak satu pun.
Tuhan hanya menonton.
Kemenangan ditentukan oleh banyak variabel dan seberapa besar kemampuan tim tersebut. Yang menang adalah tim dengan kemampuan paling bagus yang didapat dari hasil latihan, atau pun bahkan dengan kecurangan yang juga merupakan bagian dari "usaha".

Mukjijat, suatu "sumber daya" yang Tuhan sediakan bagi yang mau menggalinya. Tidak serta merta datang hanya dengan meminta.
Bagaikan cheat yang disediakan dalam video game, didapat bila pemain berusaha mempelajari atau mencari bocoran cheat tersebut.

Karena bila Tuhanlah Sang Penentu kisah hidup manusia,
maka patahlah dalil bahwa Dialah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Bilah Tuhanlah Sang Pengatur jalannya nasib manusia,
maka Dia tak lebih hanyalah seorang diktator yang mempermainkan hidup manusia.

Tuhan tak lebih hanya sebagai "Sang Penonton".
(LBP)

Salam anget


*Terlahir miskin itu takdir. Mati miskin itu pilihan.
Share:

Friday, January 3, 2014

Mengocok

Waktu yang telah berlalu tidak bisa diulang lagi.
Seiring umur yang semakin menua, saya makin sering bertemu dengan kematian di sekitar saya.
Orang-orang yang saya kenal, satu persatu pergi lebih dulu.
Tak ada tanda,
tak ada kata perpisahan.
Mereka pergi begitu saja.
Dan setiap kali itu terjadi, saya disadarkan bahwa waktu saya akan segera tiba.

Ini bagai pengocokan arisan yang tak akan terlewat.
Ini bagai pengundian lotre yang tiap orang akan kebagian.
Ini seperti saat saya mengantri suntik vaksinasi waktu kecil,
gilirannya akan tiba.
Tiap orang akan mati, cepat atau lambat.
Bisa saya lebih dulu, bisa juga Anda mendahului saya.
Semuanya akan berujung ke sana.

Tidak perlu ada kekhawatiran,
tidak juga ketakutan.
Apa pun masalah Anda dalam hidup Anda, semua akan selesai dan tuntas saat Anda mati.
Ini hanya masalah waktu.
Hidup ini singkat, nikmatilah.
(LBP)

Salam anget

*Ketika saya melayat kawan saya yang meninggal, sayup-sayup saya mendengarnya berbisik,"Sekarang aku, besok kamu..."


Share:

Thursday, August 29, 2013

Analogi tentang tuhan, sebuah lelucon yang menggelikan

Pernahkah anda mendengar kalimat berikut ini, “apakah anda bisa melihat angin?” atau “dimanakah rasa sakit itu?” Kalimat-kalimat tersebut biasanya dilontarkan oleh orang-orang yang bertuhan terhadap kaum atheis. Analogi tentang tuhan tersebut dianggap sebagai senjata maut untuk mempengaruhi seseorang untuk menjadi bertuhan. Tapi efektifkah analogi ketuhanan tersebut?

Analogi ketuhanan
Tukang cukur, salah satu analogi tentang tuhan yang cukup populer

Analogi tentang tuhan diatas hanyalah sebagian kecil contoh. Masih banyak variasi analogi ketuhanan lainnya yang digunakan untuk menunjukkan bahwa tuhan itu ada. Tujuannya sich baik, untuk mengajak orang-orang atheis agar percaya pada tuhan. Namun, bagi saya analogi tersebut justru menjadi sebuah lelucon yang bisa membuat perut saya sakit karena tak kuat menahan tawa. Emang kenapa?

Oke, coba kita analisis beberapa analogi tersebut. Saya kasih contoh tentang analogi tuhan dengan angin. Angin tidak terlihat, tapi bisa dirasakan, sama dengan tuhan. Itu adalah kalimat yang sering terlontar dari para sales agama. Yup, memang benar, tidak bisa dipungkiri, angin bisa dirasakan dan tidak terlihat. Namun, hal tersebut tidak bisa dijadikan bukti tuhan itu ada. Kenapa demikian? Angin adalah udara yang bergerak, bahkan kita bisa menciptakan angin dengan cara menghirup udara lalu menghembuskannya. Lalu, apakah berarti tuhan bisa diciptakan juga? Atau, saya bisa memprediksi kemana arah angin tersebut bertiup, caranya dengan menggunakan selembar kain, kita tinggal lihat kearah mana kain tersebut melambai. Apakah berarti tuhan anda juga bisa diprediksi. Maka secara nalar, analogi tentang tuhan dengan angin sebagai subyeknya telah gagal.

Analogi ketuhanan kedua yang juga sering digunakan untuk menunjukkan kalau tuhan itu ada adalah rasa sakit. Rasa sakit itu ada, tapi tidak terlihat, sama dengan tuhan. Sekali lagi saya jawab iya, rasa sakit itu tidak terlihat, tapi apakah itu membuktikan keberadaan tuhan? Ohw, tentu tidak! Rasa sakit adalah rasa yang tidak mengenakkan yang dialami seseorang yang diakibatkan oleh sesuatu. Rasa sakit muncul karena ada penyebabnya, bisa secara fisik maupun non fisik. Sakit secara fisik bisa disebabkan karena terjatuh, dipukul orang, penyakit, dll. Sakit non fisik atau biasa disebut dengan sakit hati, bisa terjadi saat anda ditolak cintanya (seperti yang sering saya alami, hehehehehe), dicaci maki, dimarahi, dihina, dll. Jika anda menganalogikan tuhan dengan rasa sakit, lalu apa berarti tuhan butuh penyebab untuk eksistensinya? Maka analogi tentang tuhan dengan rasa sakit juga gagal.

Kegagalan analogi tentang tuhan diatas seharusnya membuat para sales agama sadar. Analogi merupakan proses dari sebuah logika, sedangkan theis sering bilang kalau tuhan itu tidak bisa dilogikakan. Jadi terasa lucu jika anda berusaha meyakinkan orang-orang yang tidak percaya tuhan dengan logika tentang sesuatu yang absurd. So, masih mau membuat analogi baru? Be my guest, tapi jangan salahkan para free thinker jika anda dianggap pelawak stand up comedy yang gagal, hehehehehe. Semoga semua makhluk berbahagia!
Sumber : http://guetauyanglomau.blogspot.com/2013/08/analogi-tentang-tuhan-sebuah-lelucon.html
Share:

Cocoklogi dan Klaimologi sains dengan agama, pembenaran yang memuakkan

Coba anda googling kata “asal usul alam semesta” di internet. Maka anda akan menemukan tidak sedikit yang kemudian berusaha membandingkan teori ilmiah yang ada dengan ajaran dari agamanya masing-masing. Istilah ini oleh para free thinker Indonesia seringkali dipelesetkan menjadi cocoklogi sains dengan agama. Apakah yang salah dengan hal itu?

Cocoklogi sains dan agama
Cocoklogi sains dengan agama, hal yang harus dihindari oleh umat beragama

Sebenarnya, bagi saya pribadi, tidak ada yang melarang cocoklogi sains dengan agama. Akan tetapi, hal tersebut menjadi sangat memuakkan jika kemudian hal tersebut dijadikan pembenaran untuk menyatakan bahwa salah satu agama adalah yang paling benar diantara yang lain. Padahal kecocokan yang terjadi hanyalah karena sebuah kebetulan tanpa adanya landasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Saya memang bukan ahli sains, namun saya merasa geli jika kemudian ada yang bilang agama A terbukti benar karena ayat X cocok dengan teori F. Kenapa saya bilang demikian?

Saya merasa geli, sebab ketika anda mencocokkan sains dengan agama, itu adalah hal yang sangat kontradiktif. Kok bisa begitu? Begini, sains adalah sekumpulan pengetahuan yang merupakan hasil didasarkan dari beberapa teori dan harus bisa diuji secara sistematis dengan metode-metode yang berhubungan dengan bidang ilmu tersebut. Sains dan teori ilmiah tidak kebal dengan fallacy, dimana ketika ada teori baru yang lebih bisa dipertanggungjawabkan, maka runtuhlah teori lama yang dijadikan rujukan sains tersebut. Sedangkan ajaran agama yang beradasar kitab suci tidak memiliki hal tersebut. Kitab suci yang merupakan sumber tertinggi sebuah agama bersifat statis, dan hanya berdasarkan pada keyakinan semata, dan bukan pada pembuktian. Lalu, apa kesimpulannya?

Kesimpulannya ketika ada cocoklogi sains dengan agama, hal tersebut hanya akan jadi bahan tertawaan oleh mereka yang benar-benar paham tentang sains. Saya berikan contoh, misal anda mengklaim ayat A dalam kitab suci agama Y cocok dengan teori bigbang, lalu anda menyatakan kalau ini adalah bukti bahwa kitab suci agama Y adalah benar. Bagaimana jika teori bigbang kemudian diruntuhkan oleh teori baru yang lebih bisa dipertanggungjawabkan? Maka secara otomatis, langsung maupun tidak langsung sama dengan menyatakan bahwa kitab suci agama Y adalah salah. Ini yang dalam pepatah disebut “Senjata makan tuan,” sebuah pembenaran yang konyol akibat cocoklogi sains dan agama.

Akan tetapi, bagi saya, cocoklogi sains dan agama tidak mungkin bisa dihindari. Kenapa bisa seperti itu? Hal ini dikarenakan sumber agama, yaitu kitab suci sifatnya multi tafsir. Si A dan si B akan memiliki interpretasi yang berbeda ketika memahami ayat X di kitab suci agamanya. Namun, biasanya kegiatan mencocok-cocokkan agama hanya dilakukan oleh orang-orang yang sebenarnya tidak tahu tentang sains (termasuk saya, hehehehehe). Dan hal ini justru akan menunjukkan kedunguan pemeluk sebuah agama dan menjadi bahan olok-olokan saja.

Nah, oleh karena itu, saya hanya menghimbau kepada teman-teman yang beragama, sebagai wujud sayang saya kepada anda, tidak peduli apapun agama anda. Hentikanlah cocoklogi sains dengan agama, atau anda dan agama anda hanya akan menjadi bahan tertawaan. Kecuali anda memang senang dijadikan bahan olok-olokan para free thinker, hehehehehehe. Semoga semua makhluk berbahagia!
Sumber:http://guetauyanglomau.blogspot.com/2013/08/cocoklogi-sains-dengan-agama-pembenaran.html
Share:

Sunday, February 24, 2013

Di Perbatasan Antara Gelap dan Terang

Saya berada di jalan,
pada perbatasan antara gelap dan terang.
Begitu tipis perbedaan malam ke pagi.
Begitu cepat hari berganti.
Begitu tiba-tiba waktu berjalan.
Seakan tidak menyisakan kesempatan bagi saya untuk berlama-lama menikmatinya.

Suka atau tidak,
saya telah menua, semakin menua.
Hanya kecintaan pada hidup dan syukur atas anugrah-Nya yang membuat saya....
muda....
selalu muda untuk menikmati hidup.
(LBP)

Salam anget
Share:

Sunday, September 25, 2011

Inilah Kebenaran Yang Paling Benar

Kebenaran itu mempunyai sifat relatif dan selalu memihak pada suara terbanyak.
Kenapa demikian?

Yang disebut kebenaran selalu berbanding lurus dengan norma, entah itu norma masyarakat, budaya, maupun agama.
Ketika suatu agama/kepercayaan atau masyarakat menyatakan suatu ajaran dan aturan sebagai norma yang harus ditaati pengikutnya,
maka "suara terbanyak" lah pemenangnya.
Suara terbanyak sekaligus menetukan dosa atau tidak, haram atau halal, boleh atau dianjurkan suatu hal dilakukan.

Maka tidak heran bila ada suatu keyakinan yang membolehkan untuk melukai orang lain atas nama kebenaran.
Kebenarankah?
Betul, itu kebenaran, menurut suara tebanyak pada pengikut keyakinan tersebut.
Melukai orang lain untuk suatu tujuan "mulia" adalah juga kebenaran.

Tapi kebenaran yang Anda anut belum tentu kebenaran yang saya percayai.
Anda, kalian, kita, saya, kami, punya cara pandang sendiri mengenai apa itu kebenaran.

Lalu kebenaran siapa yang paling benar??
Haruskah kebenaran Anda menjadi belenggu untuk kebenaran saya?
Bolehkah kebenaran Anda melukai fisik dan hati saya?
Mungkinkah Anda mengikuti kebenaran yang saya percayai?

Satu syarat suatu kebenaran yang diakui suara terbanyak manusia di dunia,
apapun yang Anda lakukan jangan pernah melukai orang lain atau pun diri sendiri..!!!
(LBP)

Salam anget.


Share:

Sunday, September 4, 2011

Miniatur Tuhan, Malaikat, Setan, Jin dan Manusia

Tulisan ini adalah saduran dari tulisan Miniatur Tuhan, Malaikat, Syetan, Jin dan Manusia yang juga saya tulis sendiri. Perbedaannya adalah tidak disertai dengan dalil agama tertentu agar dapat diterima secara universal oleh semua kaum/golongan/keyakinan.
"Miniatur Tuhan, Malaikat, Syetan, Jin dan Manusia"

Tulisan ini saya landasi dengan pertanyaan :
Bagaimana mungkin kita memahami kebesaran Tuhan jika kita tidak memahami dan mengetahui hal terkecil yang diciptakan-Nya?

Semesta raya yang begitu amat luas, seluas mata kita memandangnya terbentuk oleh berbagai jenis materi dan energi yang sangat amat berlimpah. Dan ternyata energi dan materi yang sekian melimpah di semesta raya ini dahulunya adalah sesuatu yang padu, yang kemudian mereka saling menjauhi dan mengembang akibat suatu ledakan yang sangat dan teramat dahsyat yang dikenal dengan istilah “Big Bang”.

Namun tahukah anda, apa yang menyusun materi dan energi yang saat ini menjadi penyusun pokok semesta raya? Tak lain dan tak bukan ia hanyalah sekumpulan partikel yang sangat teramat kecil yang disebut tidak bisa dibagi-bagi lagi yang kemudian dikenal dengan istilah atom. Lantas, makhluk semacam apa atom itu? Di sini saya tidak akan membahas secara mendalam tentang atom, namun saya hanya ingin memperkenalkan kepada Anda miniatur hidup dan kehidupan yang terkandung dalam atom.

Atom tersusun atas inti atom, yang di dalamnya terdapat elektron, proton, dan neutron. Elektron adalah partikel sub atom yang bermuatan negatif, sementara proton adalah partikel sub atom yang bermuatan positif, dan neutron adalah partikel subatom yang tidak memiliki muatan. Lantas, kenapa saya menyebutnya miniatur Tuhan, Malaikat, Syetan, Jin dan Manusia? Apa korelasinya? dan kenapa Tuhan bisa dibuat miniatur? Bukankah Tuhan Maha Besar dan tidak bisa dipersamakan dengan makhluk?

Oke, kita buka satu persatu

Saya analogikan partikel bermuatan positif sebagai malaikat, alasannya, sesuai dengan sifatnya, bahwa arti positif sering diartikan dengan kebaikan, sementara partikel bermuatan negatif saya analogikan sebagai syetan, alasannya adalah bahwa arti negatif sering dipersamakan dengan keburukan. Lantas, dimana letak manusia, jin, dan Tuhan itu sendiri? Manusia dan Jin adalah makhluk yang tercipta atas ketiga partikel subatom itu sendiri, yakni Proton, elektron dan neutron. Kenapa demikian? karena antara Jin dan Manusia semuanya berpotensi membawa sifat kebaikan dan sifat keburukan, tergantung partikel mana yang lebih banyak terkandung dalam dirinya. Lantas, Tuhan itu apa?

Sebelum menjawab Tuhan itu apa, saya buka dulu fakta unik tentang atom.

Jika kita lebih jauh lagi membagi-bagi partikel subatomik, maka akan didapat sebuah getaran-getaran energi dalam setiap partikel subatomik yang menggerakkan dan menjaga setiap partikel subatomik dalam posisi dan lintasannya.

Lantas dengan demikian apakah saya akan mengatakan bahwa Tuhan adalah getaran-getaran energi? Saya akan mengatakan bahwa Tuhan adalah sumber dari segala sumber getaran-getaran energi tersebut, karena getaran energi adalah produk dari sumber yang menggetarkannya. Jika kemudian Tuhan adalah sumber energi dari subpartikel yang paling kecil, berarti Tuhan lebih kecil dari makhluk-Nya dong? Terus bagaimana analoginya?

Saya katakan bahwa Tuhan adalah sumber segala sumber getaran energi ini hanya untuk memudahkan pemahaman ketika Tuhan harus berdiri sendiri bebas dari segala bentuk pengaruh interpretasi makhluk, karena tak akan ada makhluk jika tidak ada sumber yang menciptakannya. Dikarenakan kondisi saat ini Tuhan telah menciptakan makhluk, maka keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari makhluk-Nya, tidak pula dikatakan lebih kecil dari makhluk walau dikatakan sumber getaran berada pada partikel subatomik. Melainkan Ia merupakan bagian integral dari makhluk itu sendiri, hakikat ada adalah DIA, sehingga keberadaan Tuhan akan senantiasa menyertai gerak langkah setiap makhluk-Nya di manapun ia berada di semesta raya ini.

Untuk lebih memahaminya secara mendalam, setelah Tuhan menciptakan sub partikel atomik, maka ia bertanggung jawab atas segala keteraturan ciptaan-Nya, maka terciptalah hal-hal lain yang menyertai terciptanya materi berupa hal-hal yang tidak bisa diamati secara kasat mata, contohnya adalah timbulnya gaya sentripetal dan gaya sentrifugal yang menjaga subpartikel atomik berputar pada lintasannya.

Lantas bagaimana memahami Tuhan setelah Dia menciptakan makhluk? Tuhan adalah totalitas dari sebab akibat (causa prima), dalam hal ini, Tuhan adalah totalitas sumber dari segala sumber energi, energi, materi dan segala sesuatu yang ditumbulkan oleh materi dan energi, dan segala sesuatu yang melingkupi materi dan energi dimaksud, baik yang kasat mata maupun tak kasat mata, dan totalitas itulah yang dinamakan Tunggal.

Ini adalah permodelan miniatur, sekarang silahkan anda tarik ke objek yang paling besar (semesta raya) dan totalitas itulah disebut dengan Maha Tunggal.

Tak ada satupun makhluk di semesta ini yang tidak tersusun atas partikel atom dan subatom dan juga enegi, dari mulai makhluk hidup sampai benda mati, dan tak ada satupun partikel atom dan subatomik tersebut yang tidak digerakan oleh getaran-getaran energi, dan tak ada satupun getaran-getaran energi yang tidak memiliki sumber.

Bagian tubuhmu yang mana yang tidak tersusun atas susunan partikel subatomik?
Bagian laut terdalam mana yang tidak tersusun oleh materi/energi dimaksud?
Bagian langit yang kosong yang mana yang tidak ada materi/energi dimaksud?

Itulah jawaban dari statemen kuno “Tuhan ada di mana-mana, Tuhan lebih dekat dari urat lehermu”, dan inilah mungkin maksud dari konsep “Manunggaling Kaula-Gusti” Syekh Siti Jenar.

Jika Anda memiliki konsep Tuhan sebagaimana dimaksud, buat apa kita saling tuding salah/benar akibat belum ada kesamaan persepsi terhadap Tuhan? Bukan keberadaan dan bentuk Tuhan yang harus kita permasalahkan sekarang, tapi bagaimana kita selalu menghormati nilai-nilai kemanusiaan dan mengamalkannya, karena hakikatnya itu adalah nilai Ketuhanan. Tuhan ada dalam diri setiap insan dan semua makhluk ciptaan-Nya.

Nabi Muhammad menyebut istilah Tuhan dengan sebutan “Allah”, Ajaran Sunda Wiwitan menyebutnya dengan istilah “Sang Hyang Kersa”. Anda menyebutnya dengan istilah apa?

Share:

Siapa yang Suka Minum Kopi Pahit??

Kadangkala hidup itu terasa pahit seperti kopi tanpa gula,
yang dipilih orang karena penikmat kopi lebih suka meminumnya tanpa intervensi rasa gula, atau..
karena pengiritan.
Kopi pahit dibandrol setengah harga di warkop.

Boleh jadi Anda memilih untuk hidup pahit,
seperti para biarawan dan pertapa yang memilih "kepahitan" tanpa nikmat dunia.
Atau Anda terpaksa merasakan pahitnya kehidupan karena kekurangan materi,
berbagai masalah dan kesedihan.

Kopi boleh setengah harga,
tapi hidup tidak boleh pahit.
Kopi pahit bisa ditambahi gula.
Kalau hidup yang pahit, dengan apa harus dimaniskan?

Tiada yang lebih pahit daripada hidup tanpa harapan dan masa depan.(LBP).

Salam anget.
Share:

Wednesday, August 10, 2011

Eksistensi Tuhan, Tuhan itu Ada Atau Tidak??

Ada beberapa kesalahan logika dalam pernyataan bahwa Tuhan itu ada, dan bisa dibaca pada uraian di bawah ini.

1. Jika tuhan itu dianggap sebagai causa prima yang tidak jelas asal usulnya, tidak disebabkan oleh apa dan siapapun, tidak berawal dan berakhir, kenapa anda tidak bisa menyetujui bahwa alam ini juga bisa tidak berawal dan berakhir? Perlu anda ketahui bahwa teori causa prima (prime cause) i...tu sudah sangat usang dan tidak digunakan lagi di negara2 yang sudah maju. Singkatnya, jika tuhan menciptakan alam, maka siapa yang menciptakan tuhan?

2. Jika tuhan diimajinasikan memiliki kekuatan yang maha dahsyat dan mampu mencipta, kenapa anda tidak bisa menerima bahwa alam ini juga memiliki kekuatan dahsyat dan mampu mengubah komponen2 alam menjadi apapun termasuk menjadi manusia yang semula hanya berasal dari beberapa sel yang tumbuh dan berkembang biak? Pernahkah anda mengukur seberapa dahsyat kekuatan sebuah bigbang dan dibandingkan dengan kekuatan tuhan anda?

3. Jika anda berimajinasi tuhan itu ada di di luar ruang dan waktu ~ tentunya itu sangat sulit untuk dibayangkan ~ lalu mengapa anda bisa berimajinasi bahwa tuhan bisa marah, sayang, butuh pujian, memberi imbalan atau hukuman dll. Bukankah itu suatu imajinasi yang sarat dengan kontradiksi dan merupakan personifikasi tuhan?

4. Jika anda menyebutkan tuhan itu ADA, anda juga harus menyebutkan apakah yang dimaksud dengan ADA itu. Apakah ADA secara eksistensi atau ADA karena diketahui (disepakati dalam peradaban). Itu adalah dua hal yang sangat berbeda. Jika anda setuju bahwa ADA yang dimaksud adalah eksistensi, maka anda sudah bermain dengan dimensi dan panca indera dan itu akan menimbulkan kontradiksi seperti yang disebutkan pada item 3.

5. Jika anda percaya bahwa berdoa pada tuhan itu bisa memiliki 4 opsi yaitu dikabul, ditunda, diganti yang lain atau diganti di akhirat, mengapa anda tidak pernah memikirkan bahwa berdoa pada pohon besar atau batu besar juga akan menghasilkan opsi yang sama?
Dengan uraian di atas, bagaimana orang yang mengaku percaya pada Tuhan menanggapinya? Wacana itu bagus sekali. Sangat logik dan mengoyak iman.
Dengan uraian  itu, susah sekali orang yang "percaya" Tuhan untuk membantahnya dengan argumentasi.
Kecuali paling-paling kelompok minor picik akan membantah dengan kata "pokoknya" atau "gw rela mati demi membela agama Allah".

Di sinilah memang benar-benar harus dipisahkan antara iman dan logika. Iman ya iman dan logika ya logika, jangan dicampur aduk.
Hanya orang fanatik konservatif yang selalu mengkaitkan logika sebagai suatu wangsit dari agama, sangat bodoh dan tidak bisa mencampurnya.
Tidak ada satupun "dongeng" dalam agama yang bisa dilogikakan (kecuali maksa, plus ngamuk).

Iman itu sifatnya dogma, postulat, harga mati, yang tidak bisa ditawar dan diperdebatkan oleh orang yang meyakininya.
Tuhan itu bagian dari iman. Dan sebagai orang yang mengimaninya, tidak bisa berargumen apapun dengan sesuatu yang diyakini dan dirasakannya karena tiap orang memiliki pengalaman spiritual yang berbeda.
Jadi alangkah bodoh dan naif bila ada orang yang memaksakan kepercayaannya pada orang lain.
Tuhan tidak mungkin bisa dilogikakan. Kalau mau dipaksakan akan jadi debat kusir yang tidak ada manfaatnya.
Benar tidaknya Tuhan hanya bisa dibuktikan dengan pengalaman pribadi dan tentunya akan makin jelas ketika kita mati.
Bila sekarang ada orang yang mencoba menjelaskan keberadaan Tuhan, sebenarnya itu hanya dalam tataran sharing pribadi, benar2 personal dan tidak bisa dibuktikan dengan cara apapun juga.
 Salam anget 
Share:

Wednesday, July 6, 2011

Dialog Seksi Tentang Poligami dengan Ustad Besar Erianto Anas


Apakah anda belum pernah mendapatkan dialog yang berimbang dan terang-terangan tentang poligami selama ini? Sedangkan banyak pertanyaan bercokol dibenak anda tentang topik yang satu ini. Jika jawaban anda ya, maka ceburkan diri anda secara total tanpa ragu apalagi merasa bersalah lewat dialog yang merangsang ini. Bersama ustad tekenal di Alam Semesta. Siapa lagi kalau bukan Ustad Besar Erianto Anas (EA):

Saya:
Apa boleh saya menambah isteri Ustad EA?

Ustad EA:
Oh boleh. Kenapa tidak kalau sudah cukup syaratnya.

Apa saja syaratnya Ustad?
Syaratnya anda sudah mampu memberi nafkah lahir dan bathin. Kemudian sanggup untuk berlaku adil.
Sudah ustad.
Apa anda sudah mampu secara materi?
Sudah ustad. Saya termasuk orang kaya di kampung ini.
Apa anda yakin bisa berlaku adil?
Yakin ustad. Saya sudah merancang daftar segala pembagiannya secara adil. Mulai dari jam nginap saya di masing-masing rumah mereka, model rumah, jumlah belanja rumah tangga. Pokoknya semuanya sudah saya bagi rata Ustad.

Oh kalau begitu ya sudah, jangan ditunda-tunda lagi. Sebab bila anda sudah mampu menghidupi lebih dari satu isteri, kenapa hanya satu isteri. Itulah gunanya kita kaya harta. Jadi bisa lebih banyak membantu orang lain.

Tapi ada sedikit keraguan di hati saya Pak Ustad.
Apa yang ada ragukan?
Hmm ... begini Ustad. Mereka ini rata-rata juga kaya Ustad. Saya kenalnya kan karena kami sama-sama pengusaha. Jadi mereka juga punya perusahaan. Dan sebagian mereka juga karyawan perusahaan. Singaktnya tidak ada yang kurang secara finansial.

Oh kalau begitu ya jadi meragukan niat anda. Coba anda jawab dengan jujur. Sebenarnya anda ingin membantunya atau ada tujuan lain?
Ya kalau saya mau jujur, masih banyak yang bisa saya bantu sebenarnya ustad. Para tetangga, ponakan dan sanak saudara saya sebenarnya juga sangat membutuhkan bantuan saya.

Hmm … kalau begitu sebaiknya anda dahulukan membantu sanak saudara anda. Itu lebih baik bagi anda.
Ya tapi... Apa tidak boleh saya menambah isteri ustad?
Bukan tidak boleh. Tapi alasan anda kurang afdol.
Maksudnya tidak sah secara agama Ustad?
Kalah soal sah, sah. Tapi kurang afdol. Agama kita membolehkan. Kawinilah olehmu isteri itu sampai 4. Kalau kamu sanggup berlaku adil. Itu kuncinya.

Kalau begitu berarti boleh ustad?
Ya boleh sebenarnya. Itulah kelebihan agama kita. Tuhan maha bijaksana. Karena laki-laki itu nafsunya lebih tinggi dari perempuan. Jadi diberilah kelonggaran untuk laki-laki untuk mengawani secara sah lebih dari satu isteri. Tapi kalau perempuan tidak boleh. Kalau boleh nanti bisa kacau.

Hmm … begitu ya Ustad. Berarti boleh ya karena memang saya tertarik karena nafsu?
Oh kenapa tidak. Itu kan sudah kodrat. Asal seorang laki-laki itu normal, pasti dia punya nafsu.
Ya tapi …. apa tidak sebaiknya dikendalikan Ustad?
Lho tapi anda yang mengaku memang bernafsu tadi?
Ya tiba-tiba terpikir saja begitu ustad.

Terpikir maksudnya?
Ya jadi terpikir berarti … saya menikah lagi karena untuk memuaskan nafsu dari pada untuk membantu.
Ya membantu itu kan salah satu alasan. Tapi bukan satu-satunya alasan.

Kalau begitu apa bedanya dengan selingkuh ustad?
Lho? Itu beda. Beda. Kalau selingkuh itu tidak sah. Karena dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan isteri dan tidak ada saksinya. Jadi itu tidak sah secara rukun dan syariatnya.
Jadi kalau saya sudah terlanjur selingkuh ustad?
Ya sebaiknya nikah betullah secara resmi. Jadi anda jadi terhindar dari dosa. Malah menjadi pahala jika anda bisa berlakuk adil.

Hmm …. Begitu ya ustad. Sebenarnya tidak terlalu sulit ya ustad?
Ya tidak lah. Agama sebenarnya bukan untuk menyulitkan manusia. Wong dari Tuhan kok. Jadi Tuhan tahu persis apa kebutuhan manusia. Samalah dengan manual sebuah mesin. Yang menciptakannya Tuhan. Tentu petunjuk pemakaiannya juga menggunakan petunjuk dari Tuhan. Pasti kita akan selamat.

Tapi kalau isteri pertama saya tidak setuju bagaimana ustad?
Ya sampaikan maksud anda dengan sebaik-baiknya. Jangan memaksa.
Tapi saya kok ragu dia akan setuju ustad?
Apa sudah pernah dicoba?
Ya dari pembawaan dan diskusi-diskusi tentang poligami dengan dia selama ini, sepertinya dia tidak setuju ustad.
Coba sampaikan dengan lemah lembut dulu. Coba dengan penuh pengertian. Kalau dia tidak bisa terima, baru sampaikan dengan tegas.

Maksudnya dengan paksaan ustad?
Bukan. Memaksa tidak boleh. Cuma tegaskan bahwa yang anda lakukan bukan sebuah tindakan semena-mena. Tapi sudah ada hukumnya dalam agama kita. Jadi anda adalah pemimpin dalam rumah tangga. Dan dia yang dipimpin. Dalam agama kita, seorang isteri itu harus taat dan patuh pada suaminya. Bahkan dalam suatu hadis dikatakan, ridho Allah pada seorang isteri itu diatas ridhoNya pada suaminya. Asal suaminya ridho, maka Tuhan pun ridho. Jadi isteri anda harus paham akan ini. Dan ini agama.

Hmm … begitu ya ustad.
Ya iya. Lagi pula anda kan mampu. Jadi dia dan anak-anak anda tidak akan terlantar jika anda menambah isteri lagi.

Hmm .. saya jadi semangat nih ustad.
Hehe… Oya kalau boleh tahu Ustad sendiri punya berapa isteri?
Saya?
Iya Ustad.
Tiga belas!

Wah ustad? Berati ustad banyak uang juga ya?
Ah tidak juga. Kalau soal rezeki itu kan ditangan Tuhan. Ada saja pintu-pintu rezeki itu.
Memangnya pekerjaan tetap ustad apa ya? Maaf kalau boleh tahu Ustad.
Ya ini. Berdakwah.

Maksud saya ada pekerjaan bisnis misalnya atau apa begitu?
Oh tidak. Mana sempat. Saya banyak diundang kemana-mana memberi ceramah.
Wah senang juga Ustad ya.
Yah itulah yang saya katakan tadi. Rezeki itu datang dari Tuhan. Kita tinggal menjalani saja. Yang penting kita usaha. Itu saja.
Apa tidak pernah undangan dakwahnya sepi ustad?
Oh pernah. Namanya rezeki kan tidak tetap. Ada turun naiknya juga.
Terus kalau lagi sepi bagaimana ustad mengatasi masalah ekonomi rumah tangganya dengan 13 isteri Ustad?
Ya kalau untuk makan saya Isnya Allah tidak ada masalah. Karena setiap saya memberi dakwah, umumnya jamaah suka memberi saya hadiah.

Hadiah maksudnya ustad?
Yah ada yang memberi uang, beras, makanan. Yaa.. macam-macamlah.
Waah salut Ustad asli lancar rezekinya..
Ya itulah saya katakan tadi. Selagi kita hidup di jalan Tuhan, rezeki itu ada-ada saja. Makanya saya tidak pernah ragu walaupun isteri saya 13 orang. Makanya anda juga tidak perlu ragu-ragu. Kalau sudah ada niat, ya jalankan. Sisanya serahkan pada Allah. Pasti akan ada jalan. Oya, kalau boleh tahu, calon isteri kedua anda namanya siapa?
Lady GaGa ustad?
Lho?




Share:

Benarkah Poligami itu Legalitas Syahwat?


Saya tidak menuduh. Tapi hanya bertanya baik-baik.
Benarkah poligami itu hanya legalitas syahwat?

Saya pernah punya isteri gelap 17 orang. Tau-tau akhirnya saya ketahuan. Akibatnya banyak pihak menghujat saya. Mereka mengatakan saya tidak bermoral. Saya dituduh manusia biadab. Freeseks. Budak nafsu. Prilaku binatang!

Lalu saya menyerah. Saya katakan saya tidak bisa meninggalkan semua selingkuhan saya. Akhirnya mereka menyarankan agar saya menikahinya secara sah. Dan karena saya tidak bisa menahan nafsu, maka nasehatnya saya lakukan. Akhirnya selamatlah saya dari segala tudingan dan kecaman seperti sebelumnya. Bahkan sebaliknya justru saya dipuji. Sehingga saya dijuluki sebagai Bapak Poligami Indonesia.

Saya tertawa dalam hati.
Dan pada satu kesempatan saya bertemu kembali dengan orang tersebut.
Lalu saya tarik kepalanya. Saya jewer telinganya. Lalu saya berbisik:
Apa bedanya poligami dengan legalitas syahwat?




Share:

Definition List

Unordered List

Support