Tarot versi Gilded

maka blog ini diberi judul tarot & art. The Gilded Tarot is a digitally drawn and visually sumptous Rider-Waite style tarot from the talented Ciro Marchetti. The 78 card deck is available from Llewellyn as well as in a handmade edition.

Rider-Waite Tarot

The Rider-Waite Tarot is a classic Tarot deck, perhaps the most well-known in the Western world. It is often called the first modern Tarot deck, as the cards drawn by Pamela Colman-Smith and commissioned by Waite were the first to use detailed pictures on the minor arcana cards

A Night Watch

Rembrandt van Rijn

Seni Meracik minuman keras

Para Bartender wanita sedang beradu keahlian meramu koktail

Di Lorong Ku Menatap

Yang ini jelas foto profil saya to

Saturday, February 25, 2017

Bagaimana Caranya Punya Pacar Secantik Megan Fox?

Seandainya bisa memilih, seandainya boleh memilih,
maka Anda pasti akan pilih yang paling bagus.
Inginnya pacar yang ganteng, baik, setia, pengertian, wangi.
Maunya istri yang cantik, seksi, pintar, jago masak.
Cocoknya kerja jadi bos, banyak duit, rumah bagus, kendaraan mentereng.

Coba lihat ke diri sendiri.
Pacar cantik sih, tapi bawel dan banyak maunya, tapi masih saja pacaran sama dia.
Suami jelek, buncit, jarang mandi, tukang selingkuh,
tapi kok masih bertahan.
Pekerjaan berat, gaji pas-pasan, berangkat subuh, pulang baru maghrib,
tapi sampai sekarang tetap bekerja di tempat yang sama.

Kenapa bisa gitu?
Salah pilih atau memang kepepet karena tidak ada pilihan lain?
Alasannya cuma Anda yang tahu.

Setiap pilihan selalu mengandung resiko.
Tidak ada pilihan yang sempurna,
yang ada adalah pilihan yang "agak mendingan" diantara yang buruk.

Sebenarnya saya ingin punya pacar seperti Megan Fox. Tapi apa daya, cuma dia yang bisa saya dapat.
Sebenarnya saya ingin punya suami seperti Aston Kuthcer. Tapi apa boleh buat, yang mau melamar saya cuma dia.
Sebenarnya saya melamar kerja ke PT. X di Sudirman. Tapi saya hanya diterima kerja di PT. Z yang kantornya cuma bisa sewa ruko.

Salah pilih atau kepepet?

Kita selalu terjebak pada keadaan yang tidak memuaskan.
Dalam hati mungkin Anda berpikir begini,
"Harusnya gue layak untuk dapat yang lebih baik."
Yakin Anda layak?

Saya ingin punya pacar cantik, maka saya harus menggantengkan diri dengan rajin merawat tubuh sehingga yang cantik melirik saya.
Saya ingin punya suami setia, maka saya harus menyenangkannya supaya tidak sempat melirik perempuan lain.
Saya mau pekerjaan bonafit itu, maka saya harus meninggikan kemampuan saya sehingga bisa diterima di sana.

Apa yang Anda dapat sekarang, sebesar yang Anda layak untuk terima.
Trust me..!!

Mau yang lebih bagus?
Naikan level Anda,
layakan diri,
perbesar potensi dan kesempatan,
supaya saat yang bagus dan besar itu datang, Anda layak dan siap untuk menerimanya.

Salam anget

***
Terinspirasi oleh Andreas Patria Krisna yang buncit, jarang mandi, tapi baik hati dan tidak sombong 😆😆
Share:

Tuesday, February 21, 2017

Bagaimana mendidik anak supaya tidak nakal?

Masih teringat kenangan masa kecil saya.
Ada banyak aturan-aturan yang diterapkan orang tua ke saya.
Beberapa aturan pokok yang sejalan dengan norma, saya ikuti.
Misalnya, aturan feodal bila dengan orang yang lebih tua harus menghormati,
bilang permisi kalau mau lewat,
duduk tidak boleh lebih tinggi atau minimal sama tinggi,
tidak boleh bohong,
jangan jajan sembarangan, dll.

Disamping itu, banyak aturan yang saya langgar, karena menurut saya tidak relevan.
Misalnya,
selama sekolah tidak boleh pacaran,
pulang sekolah harus langsung pulang,
bergaul hanya dengan anak-anak baik (baik menurut kacamata orang tua),
tidak boleh ikut kegiatan yang tidak berhubungan dengan pelajaran sekolah, dll.

Orang-orang seangkatan saya, sedikit di atas atau di bawah, 
kebanyakan sudah beranak.
Saya melihat bagaimana mereka dengan ketat memberikan peraturan-peraturan yang menurut saya terlalu mengekang.
Alasannya sangat mulia, demi melindungi anak dari hal buruk.
Tapi mereka lupa, bahwa kami dulu adalah para pelanggar cilik yang kadang, bahkan sering tidak mematuhi aturan dan kalau perlu berbohong pada orang tua.

Lalu, lihatlah, bahwa saya, kami, kita, saat ini baik-baik saja. Hidup baik, pekerjaan baik, sosialisasi baik (dalam tataran norma pada umumnya), mampu survive.
Ternyata kelakuan kita sebagai pelanggar cilik memberikan banyak kontribusi pada kehidupan saat ini.
Semua akibat baik dan buruk dari "melanggar" memberikan kita pengalaman dan ilmu yang banyak berguna.

Para orang tua, kebanyakan, selalu memberikan standar tinggi pada anaknya melebihi dengan standar yang pernah diterimanya dulu.
Mereka lupa bahwa anak pun punya kehendak bebas dan pada waktu tertentu bisa membedakan mana yang baik dan buruk.
Akibatnya, ternyata Anda bisa lebih kolot dibanding orang tua dulu.

Apa yang baik menurut Anda tidak selalu sesuai pada anak.
Apa yang buruk menurut Anda juga belum tentu buruk untuk anak.
Perlakukan anak-anak sebagaimana Anda ingin diperlakukan ketika Anda kecil.

Salam anget.

**
Jadi inget, waktu kecil makan chiki diomelin sama mami, dibilang mecin, bikin bodo.
Eh sekarang saya beli banyak dong, makan sepuasnya di depan mami.

Hhahahahaha

Share:

Sunday, February 19, 2017

Careful what you wish for

"Gini bro, mendingan kita siapin stok lebih. Takutnya nanti kurang."
Jawab saya,
"Lho...jangan takut,
ga boleh takut, kita harus berani."
Krik...krik...krik

Ada satu joke yang sering saya lontarkan ke kawan.
Jokenya ya seperti di atas tadi.
Buat yang terlalu serius, dia akan bengong, lalu mengulang penjelasannya dengan maksud supaya saya paham.
Buat yang humoris, dia akan tertawa, lalu membalasnya dengan joke juga.
Beberapa kawan yang sering saya celutuki demikian, mereka tertawa lalu biasanya sigap dan mengganti kalimatnya,
"Gini bro, mendingan kita siapin stok lebih.
Beraninya nanti kurang."

Kalimat-kalimat sejenis sering kita temui. Saat Anda berkata "tidak ada uang", 
biasanya para orang-orang tua atau kawan Anda menegur agar mengganti kalimatnya menjadi "belum ada uang".

Tidak ada berarti memang tidak ada. Sedangkan belum ada bermakna bahwa sekarang sedang tidak ada tapi nantinya semoga akan ada uang.

Kata-kata yang Anda ucapkan pada sesuatu, diri sendiri atau orang lain, tanpa Anda sadari bisa menjadi mantra, doa atau sumpah yang bila dikehendaki-Nya akan terjadi.

Mantra atau doa yang berkasiat, bersifat repetitif, diulang-ulang, berpotensi untuk terjadi.
Bahkan beberapa kepercayaan menerapkan dan menyarankan mantra/doa repetitif yang mungkin kita kenal dengan menggunakan media tasbih atau alat hitung pengulangan.

Begitu dahsyatnya "kesaktian" kata-kata Anda.
Apa yang kita ucapkan begitu saktinya sehingga berpotensi terkabul.
Maka ucapkanlah hanya kata-kata positif.

Jangan takut, jangan kuatir, jangan bodoh, jangan...bla...bla...bla...

Saran saya pada Anda begini,
"Gini bro, mendingan kita siapin stok lebih.
Beraninya nanti kurang."


Salam anget


Careful what you wish for..!!

Share:

Monday, February 13, 2017

Pilih Agus atau Ahok atau Anis?

Ketegangan antar pendukung paslon terasa begitu kuat sejak pilpres lalu di medsos.
Masing-masing pendukung paslon begitu fanatik.
Ini pun terasa sampai ke pilkada tahun ini.
Sering saya baca status teman-teman yang saling menghujat, 
bersekutu,
dan malahan saling unfriend memutuskan silaturahmi.

Anda mungkin netral, tidak peduli dengan dinamika politik.
Baiklah, tidak ada masalah dengan itu.
Tapi bila Anda pendukung/pembenci salah satu paslon,
rasanya panas kalau melihat status teman menjelekan paslon Anda.
Tidak tahan, lalu berkomentar, bertengkar, dan berujung unfriend.
"Ini orang kok bebal banget sih, ga ngerti2 juga kalo paslon gw itu bener. Punya hati nurani ga sih?
Bisa mikir ga sih?"
Itu yang timbul di benak Anda.

Para pembenci biasanya akan menghasilkan pembenci juga di pihak lain.
Para pendukung, dengan semua argumennya,
juga pasti mempunyai lawan pendukung di pihak lain.
Anda pasti merasa benar dan mereka salah.
Begitu pula sebaliknya.

Pernahkah Anda mencoba membaca dengan serius status teman para pembenci?
Baca dengan hati, lojik, dingin.
Mungkin Anda yang salah dan mereka yang benar.
Kalau masih panas bacanya, 
tinggalkan sejenak, lalu baca lain waktu.
Begitu terus menerus.
Barangkali suatu ketika Anda akan sadar, bahwa paslon pilihan Anda kurang tepat.
Atau malahan semakin yakin pada paslon yang Anda dukung.

Tidak perlu unfriend dan memutuskan silaturahmi dengan orang yang bersebarangan.
Jadikan introspeksi, bahwa paslon dukungan Anda bukan dewa yang tanpa cela.
Dan persiapkan mental menerima bila paslon Anda kalah, bukan bila menang.
Karena kemenangan paslon tidak perlu mental apa pun dari Anda.

**
Paslon itu mirip gebetan.
Kamu sibuk bahas paslon
tapi paslon ga pernah bahas kamu.

Kamu sibuk bahas gebetan
tapi gebet... ah sudahlah..!!

Salam anget


Share:

Sunday, February 5, 2017

Seberapa Besar Batas Kemampuan Tubuh Manusia?

Manusia memiliki batas kemampuan. Tapi seberapa besar atau jauh batas itu?
Anda tidak akan pernah tahu bila tidak mencobanya.
Suatu kali kita bisa menyerah atas ketidakmampuan  dalam menghadapi atau menyelesaikan sesuatu.

Benarkah tidak mampu?
Inikah batas kekuatan Anda?
Sampai di sini usaha maksimal yang dilakukan?
Atau ternyata ini hanya perasaan Anda saja dan merupakan hasil kekurangpercayaan diri?

Tubuh itu mengikuti pikiran.
Anda adalah apa yang Anda pikirkan.
Keluhan dan rasa pesimis membatasi diri Anda untuk maju.

Iya, Anda punya masalah dan beban hidup.
Masih kuat untuk menghadapinya?
Atau cukup sampai di sini perjuangan Anda.

Target hidup yang tidak mungkin tercapai.
Penghasilan yang Anda rasakan selalu kurang.
Beban masalah yang begitu berat sehingga Anda tidak mampu mengangkatnya.
Ketidakpastian masa depan.
Percayalah, perjuangan Anda belum maksimal.
Anda belum mengeksplorasi kemampuan.

Sugesti yang paling baik datangnya dari sendiri.
Katakanlah, saya mampu lebih dari ini,
saya bisa menghadapinya,
saya kuat,
lalu lakukan perjuangan terbaik Anda.
Dan lihatlah, bahwa pencapaian Anda akan di luar perkiraan.

Salam anget.

**
Potongan video ini menginspirasi saya, dan semoga juga membuat Anda terinspirasi untuk melakukan usaha terbaik dalam hidup.



Share:

Definition List

Unordered List

Support