Tarot versi Gilded

maka blog ini diberi judul tarot & art. The Gilded Tarot is a digitally drawn and visually sumptous Rider-Waite style tarot from the talented Ciro Marchetti. The 78 card deck is available from Llewellyn as well as in a handmade edition.

Rider-Waite Tarot

The Rider-Waite Tarot is a classic Tarot deck, perhaps the most well-known in the Western world. It is often called the first modern Tarot deck, as the cards drawn by Pamela Colman-Smith and commissioned by Waite were the first to use detailed pictures on the minor arcana cards

A Night Watch

Rembrandt van Rijn

Seni Meracik minuman keras

Para Bartender wanita sedang beradu keahlian meramu koktail

Di Lorong Ku Menatap

Yang ini jelas foto profil saya to

Saturday, July 15, 2017

Agama Ini Mengajarkan Kebencian?


Eksternal HD saya sudah penuh dengan film-film box office pilihan. Tidak ada ruang kosong lagi.
Kalau ada film bagus yang mau saya isikan, terpaksa harus menghapus film lama.
Tapi tentu saja harus film bagus. Kalau film jelek, saya tidak akan rela menghapus yang lama.
Atau ada pilihan lain, membeli eksternal HD yang baru. Bisa saja.
Suatu wadah yang sudah penuh, tidak akan bisa diisi lagi dengan yang baru,
kecuali menambah wadah yang baru atau membuang isi lama.

Melompat ke topik lain,
ada orang-orang yang rajin melakukan ritual agamanya, rutin beribadah, sering berdoa.
Yang lucu, misalnya, ada orang setelah selesai misa,
di luar gereja bisa bertengkar dengan orang lain bersumpah serapah hanya gara-gara mobilnya tidak bisa keluar parkiran terhalang mobil lain.
Yang aneh, misalnya, ada orang yang rajin shalat lima waktu,
tapi begitu mudahnya berteriak-teriak menghina orang lain yang tidak sealiran dengannya.
Yang miris, misalnya, pemuka agama yang harusnya adalah manusia "sempurna",
tapi tetap melakukan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain,
melanggar hukum,
atau memprovokasi pengikutnya agar membenci orang lain.
Lalu apa gunanya "rajin ibadahnya"?

Yang salah agamanya? Saya yakin tidak.
Yang salah pemahamannya? Bisa jadi demikian.
Salah memahami ajaran agamanya.
Salah menafsirkan kitabnya.
Salah menerapkan kepercayaannya.

Saya yakin Dia adalah cinta. Maha cinta.
Dengan demikian, saya yakin pula bahwa Dia tidak akan mengajarkan sesuatu yang berlawanan dengan cinta.
Bila benar menjalankan ibadah karena Dia,
bila benar memahami ajaran Dia,
bila benar menerapkan kitab Dia,
bila benar menerapkan kepercayaan akan Dia,
maka tidak akan mungkin ada tempat untuk kebencian.
Ini yang saya yakin, mungkin Anda punya prinsip berbeda.


Ketika Anda sudah sangat mencintai seseorang, masikah ada ruang di hati untuk membencinya?
Bisa saja, dengan membuang cinta lama, lalu menggantinya cemburu dan sakit hati.
Lalu apakah saya mau "mendelete film bagus" demi ada ruang untuk "film buruk"?
Masikah ada ruang dalam hati untuk membenci orang lain bila sudah penuh akan cinta pada Dia?
Apakah Anda mau membiarkan hal baik dalam hati karena Dia, dihapus demi sesuatu yang jelek?


Salam anget


Share:

Anda Harus Melakukan Ini Bila Diguncingkan Orang

Mau seberapa baiknya Anda,
tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang.
Selalu saja ada yang "nyinyir" atau pembenci,
menggunjing di belakang.

Seorang pembalap di posisi nomer 1,
kalau dia menengok ke samping/ke belakang demi melihat posisi lawannya,
biasanya akan segera tersalip.
Karena energi dan konsentrasinya terbagi dua antara ngebut ke depan dan melihat orang lain.

Biasa sih orang ngomongi saya.
Ada yang baik, banyak juga yang buruk.
Saya tidak peduli apa gunjingan orang tentang saya.
Karena saat saya terusik dengan gunjingan itu,
sama halnya mengurangi tarikan gas menuju kesuksesan.

Begitu pula soal orang lain.
Buat saya tidak perlu juga menggunjingkan kekurangan orang, terutama orang yang tidak saya suka.
Karena itu membuat saya sibuk pada hal yang tidak perlu.
Saya asyik bergosip tentang dia,
lha dianya tidak terpengaruh tuh, malah makin sukses hidupnya.

Mari berhenti mengurusi orang lain.
Mari berkonsentrasi untuk mengurusi diri sendiri dan mencapai sukses.

Salam anget

Share:

Tuesday, July 4, 2017

Politik Berkedok Agama




Qomaruddin khan, seorang guru besar sejarah Islam universitas karachi, memberi analisis menarik bahwa tujuan Al Qur-an bukanlah menciptakan sebuah negara, melainkan sebuah masyarakat. Artinya agama tidak membela sistim pemerintahan atau bentuk negara seperti apapun ketika hukum bisa mengantarkan pada keadilan, perekonomian membawa pemerataan kesejahteraan, pendidikan bisa mencerdaskan kehidupan, dan lain sebagainya. Tiada penjelasan rinci mengenai bentuk negara memungkinkan Islam untuk mengikuti kemajuan zaman kondisi dan lingkungan baru.

Nabi Tidak Mendakwahkan Khilafah
Bahwa realitas perjuangan Nabi Muhammad dalam menyampaikan risalah kenabian bukanlah untuk tujuan politik kekuasaan, melainkan pemberdayaan masyarakat secara menyeluruh sebagaimana misi kenabian adalah untuk menyehatkan moralitas masyarakat melaului pendekatan keteladanan sehingga kumpulan individu individu yang bermoral baik dapat mengejawantahkan struktur kehidupan bermasyarakat yang memberi kebaikan bagi seluruh alam.

Kemunculan Rasululloh sebagai pemimpin tunggal masyarakat di jazirah arab pada waktu itu adalah bukan karena urusan politik pemerintahan apalagi kekuasaan melainkan karena kenabian dan kerasulan beliau. Tiga puluh enam kali peperangan dan tiga puluh delapan penyerbuan masa dakwah beliau adalah karena terjadinya penindasan dan pelanggaran terhadap kaum muslimin dalam beribadah, bukan untuk mewujudkan sistim pemerintahan apalagi khilafah.
 

Gagasan Khilafah: sebuah politik berkedok agama
Awalnya istilah khilafah mengacu pada Al Qur-an surat Al Baqoroh ayat 30 tentang penciptaan manusia yang disebut kholifah, wakil Tuhan di bumi. Dalam hubungan dengan ayat ayat lain, para ulama menafsirkan, tugas kholifah ialah memakmurkan kehidupan dimuka bumi, bukan menegakkan khilafah.

Dari sini tampak bahwa secara sistematis golongan pro khilafah memperjuangkan gagasan khilafah dengan mengeksploitasi teks teks Al Qur-an dan As Sunnah untuk mendukung gagasannya sembari mengkampanyekan bahwa sistem sistem yang ada pada saat ini adalah penyebab kedzoliman, kebrobrokan, dan ketidakbermoralan masyarakat. Semua keburukan selalu dinisbatkan kepada sistem sistem lain, sedangkan segala kebaikan selalu dinisbatkan pada gagasan khilafah.
 

Konsep Khilafah justru akan memecah belah umat Islam
Dari sudut pandang yang lain dalam realitas keanekaragaman pemahaman umat Islam terhadap apa dan bagaiamana syariah, gagasan khilafah juga dapat diidentifikasi sebagai alat politik untuk memperuncing perselisihan antar umat. Secara normatif gagasan khilafah memang dieksplorasi sebagai wahana penyatuan umat Islam yang saat ini. Ketika gagasan khilafah sudah didukung secara penuh oleh umat Islam, maka akan sampailah pada fase perpecahan dalam penentuan khilafah sebagaimana sudah mulai terjadi sejak Rosululloh wafat. Persoalan penting pertama yang mengemuka setelah wafatnya Rosululloh adalah mencari pengganti kepemimpinan beliau. Persoalan ini menciptakan perpecahan abadi di kalangan masyarakat muslim.
 

Khilafah tidak menjamin pengayoman di segenap wilayahnya
Golongan pro khilafah indonesia menguraikan secara ringkas tentang apa itu khilafah, untuk apa, bagaimana memperjuangkannya. Mereka menyeru umat Islam untuk bergabung bersama golongannya dalam perjuangan penegakkan kembali khilafah.

Dalam manifesto pro khilafah sangat jelas dinyatakan jika saat ini ada satu atau lebih mengeri Islam yang menjelma menjadi sebuah daulah khilafah, yang didalamnya diterapkan sistem Islam, niscaya negara tersebut akan menjadi titik awal bagi proses reunifikasi atau penyatuan seluruh dunia islam menuju terwujudnya sebuah negara yang paling kuat didunia.

Namun sebenarnya itu omong kosong belaka, karena bukti sejarah mengatakan bahwa daulah khilafah itu tidak secara menyeluruh memberikan pengayoman kepada segenap wilayah seperti yang diagung agungkan olehnya.


Menolak sistim Thohut tapi justru menggunakannya
Fenomena masyarakat muslim indonesia menyimpan fakta yang sangat menarik. Semakin islamnya masyarakat ternyata tidak berhubungan lurus dengan kemenangan islam sebagai gerakan politik. Dengan realitas seperti itu tampaknya sulit bagi partai islam untuk mendapatkan popular support.

Maka untuk mendongkrak popularitas dan dukungannya, pro khilafah juga sering melakukan manipulasi data dan informasi untuk memobilisir dukungan publik terhadap pro khilafah dengan gagasan khilafahnya.

Data dan informasi yang menyimpulkan hasil sebaliknya justru didefinisikan sebagai meningkatnya dukungan publik muslim terhadap khilafah. Mereka tidak mau mengikuti sistem thoghut padahal dalam masalah ini mereka justru mempraktekkan sistem yang mereka anggap sebagai thoghut.


Oleh
Liling Efendi
Share:

Saturday, June 10, 2017

Cara Cepat Menjadi Kaya

Ada berbagai cara untuk menjadi kaya dengan mudah.
Saya cukup kasih satu cara mudah dan cepat.
Bisa disimak di link bawah ini :

KLIK DI SINI



Share:

Sunday, April 23, 2017

Salah Satu Sebab Mengapa Ahok Kalah

Perspektif Lain Tentang Ahok
The real ahok

Mau tahu suara hati pengusaha? Mengapa banyak pengusaha Tionghoa tdk mendukung Ahok? Ini bukan masalah jujur dan anti korupsi, tapi masalah Ahok sebagai pejabat tidak etis.

Sebagai pejabat, dengan modal dari pembayar pajak,  Ahok mengajak pengusaha bersaing usaha. Selalu dia mengeluarkan kata-kata bernada ancaman bahwa modalnya  70T, artinya dialah, sebagai gubernur, the Real Konglomerat. Dia punya uang dan punya kekuasaan. Jadi pengusaha harus nurut 100% dengannya. Kalau tidak mau, maka dia yang akan jadi pengusahanya. Kalau tidak nurut, maka dengan kekuasaannya dia tidak akan memberi ijin. 

Ahok baik tapi TIDAK BIJAKSANA. Dia hendak memainkan perannya sebagai pengusaha sekaligus penguasa. Sebagai penguasa, dia hendak bermain di level operator, bukan kebijakan.

Bagi orang yg bekerja alias profesional, Ahok yes... bagi pengusaha Ahok No... kenapa?? Ahok tidak peduli sulitnya pengusaha. Yang dia pikirkan hanya bagaimana mengambil keuntungan sebesar-besarnya (kata halus dari memeras) dari rasa tidak berdaya pengusaha. Apa yg sudah diucapkan dari mulutnya seperti titah dewa. Tidak mau mendengar keluhan pengusaha dll. 

Contoh yg paling kecil: pasang spanduk biayanya 5000/m/hari. Dalam 3 th perjalanannya menjadi 125rb/m/hari. Dia tidak ingat pengusaha yang memasang spanduk dalam beriklan berarti pengusaha berbudget terbatas dan tidak bisa beriklan di TV. Ketika asosiasi pengusaha kecil dan menengah datang ingin negosiasi, jawaban Ahok,
"Anda kalau tidak bisa pasang umbul-umbul dengan biaya segitu, ya jangan pasang." 

Contoh lain, pengusaha cleaning service di pemda tidak diperpanjang kontraknya, kebersihan  juga  diambil alih, pegawai mereka diambil alih diberi gaji 250.000 lebih tinggi. Otomatis semua pegawai tidak mau lagi kerja dengan majikan lama. Padahal mereka ini yang mentraining keahliannya. 

Dulu mungkin ada kongkalikong. Tapi tidak seharusnya jantung pengusaha dibunuh, sistem dan pengawasanlah yang perlu diperbaiki. Bukankah pengusaha hanya mengikuti permainan penguasa. Kalau penguasa bersih, pengusaha juga akan ikut bersih. 

Kasus Seaworld, Ahok sengaja menaikkan biaya restribusi yang sangat tinggi, yang secara bisnis pasti tidak menguntungkan, bila Lippo ingin meneruskan kontraknya dengan pemda. Tujuan sebenarnya buat AHok cuma 1, dia cuma mau takeover seaworld, dengan kekuasaannya. Akhirnya seaworld ditakeover pemda dan seluruh karyawannya di ambil juga. Jadi pemda tidak perlu mengeluarkan biaya training karyawan apapun ataupun educate people. Tidak perlu memikirkan sistem management, istilahnya ini barang jadi, tinggal gue ambil dengan biaya 0. Karena gue punya kekuasaan.
Hal yg sama juga akan terjadi pada palyja, aerta, dll.

Kasus  pengusaha transportasi kota juga bencinya setengah mati dengan Ahok. Mereka hanya boleh menitipkan bisnya. Sopir diambil pemda. Artinya penghasilannya dijatah. Jadi bukan peraturan berkendaranya yang ditata, dan pengawas di dalam kota yang ditatar agar melakukan pengawasan dengan benar dan tertib berkendara,  tapi titik ekonomi orang lain yang dicabut. Lagi-lagi ini karena dia punya modal dan kekuasaan.

Bagi profesional yg bekerja, tanpa memikirkan ROI, Risk, nasib karyawan lain, maka Ahok is yes..yes..yes... Tapi bagi pengusaha, Ahok adalah seorang gila kekuasaan dan power approach. Di otak Ahok hanya kamu nurut saja, karena dia anggap semua orang bodoh. Seperti yang dia selalu katakan, kalau org bodoh nurut saja. Itu menyakitkan pengusaha.

Demikian juga konglomerat yang akan dipalak 15% jug disuruh nurut karena anggapannya tidak ada manusia yang lebih pintar dari dia.

Itulah kelemahan AHok. Dia terlalu menggunakan power approach. Never listen other people. Termasuk ke konsultan kampanye dan politiknya!! Di otaknya cuma I WIN you LOOSE!

Kenapa dia tidak belajar dari walikota London, yang dicintai masyarakat Inggris meskipun dia Muslim? Karena  modalnya cuma 1, listen others. Tidak ada  kesan ambisi membunuh orang yang tidak nurut. Tapi mendengarkan dan kemudian didiskusikan bersama. Pemerintah bisa menata sesuai kemauan pemerintah tapi pengusaha juga diajak memberi solusi. Kalau Ahok tidak bisa begitu, apa yang sudah keluar dari mulutnya tidak bisa dinego lagi. Makanya model selevel AGuan pun males ngomong sama dia. Pada akhirnya orang ambil kesimpulan, percuma ngomong sama orang ini. Semakin kita ngomong, semakin beringas dia.

Jadi mengapa ada kesan pengusaha memilih Ahok tidak  menjabat, bukan karena dia anti korupsi atau apapun, tapi kegilaan Ahok dalam menggunakan power approach harus dihentikan. Harus dicari penguasa yang mau duduk bersama, listen to each other, untuk memecahkan bersama. Pengusaha bukan orang bodo kok.

Saya menulis ini supaya semua orang bisa melihat secara berimbang. Menjadikan Ahok super hero karena mengkultuskannya itu sebenarnya membunuh dia pelan-pelan. Karena dia akan rusak dengan mental kesombongan dan tidak pernah sadar kelemahan dirinya sendiri.

Bagaimanapun, kita tetap terimakasih, karena dia sudah mletakkan dasar good governance.
Semoga sukses.

Share:

Friday, April 21, 2017

11 Alasan Mengapa Anda TIdak Pakai Bra (Beha/Kutang)


Entah kenapa, manusia yang lahir setelah ditemukannya kutang kerap memandang penuh udang di balik batu terhadap Wanita Tuna Kutang, atau perempuan yang tidak mengenakan beha. Terutama jika putting susu tampak sedikit menjiplak pada baju. Padahal, apa yang tidak normal dengan itu? Lelaki punya pentil juga meski tak punya susu. Kerap, ibu-ibu dan masyarakat tak membiarkan gadis-gadis keluar rumah tanpa sepasang cungkup payudara itu, sebab mereka menganggap gadis-gadis yang suka keluyuran tanpa kutang sebagai kurang baik-baik. Padahal ada banyak penjelasan mengapa manusia tak harus pakai beha.

Inilah sebelas diantaranya :          

1.       Laki-laki

Jika Anda lelaki tentu saja Anda tak perlu-dan, hamper tak akan-mengenakan kutang. Tak ada orang yang senang memakai ransel terbalik jika tak perlu.



2.     Sekolah Putri Tarakanita- yang muridnya perempuan semua, rok seragamnya cukup tinggi, dan dikenal lebih bagak ketimbang anak-anak perempuan sekolah lain- saya mendengar gossip bahwa cewek-cewek Tar-Q itu “berani”. Mereka ke sekolah pakai rok mini, membawa botol minum, dan tidak pakai beha. Mereka memang membawa bekal makanan dan minuman, tetapi mereka no-bra. Betapa nakalnya!

Tentu saja. Yang dimaksud adalah Taman Kanak-kanak Tarakanita. Sebab, selain lelaki, bocah-bocah juga tidak mengenakan beha. Bukankah kita semua dilahirkan tanpa beha.



3.      Gadis jujur.

Berbeda dari anggapan nakal tentang Wanita Tuna Kutang, sebagian perempuan yang memilih tak mengenakan beha sesungguhnya adalah gadis jujur. Mereka justru tidak mengenakan kutang karena mereka tidak mau berbohong mengenai ukuran payudara mereka.


                Tahukah Anda, bahwa fungsi kutang adalah dua hal yang saling bertentangan? Yaitu, untuk menutupi sekaligus menonjolkan. Bahkan tujuan yang terakhir bias berlindung di balik tujuan yang pertama. Niat nakal berpura-pura tidak ada di balik niat santun-sederhana.


                Sebagian model bra menawarkan penampilan payudara secara ideal. Ada push up bra yang menggunakan kawat dan cungkup yang kuat agar kantung kelenjar susu yang lemas bias membusung diri. Payudara yang menggantung ke bawah pun bisa tampak membuncah ke atas. Ada pula beha yang bisa membuat dada tampak dua nomor lebih montok. Caranya dengan menambah berbagai sumpal. Sekadar busa yang kaku sampai sumpal kantong silicon yang menyesuaikan diri dengan suhu tubuh. Silicon hangat ini begitu lembut dan lentur sehingga, jika perempuan berbeha demikian menempelkan dadanya pada lelaki pada saat berdansa, atau saat naik ojek yang pengemudinya suka mengerem mendadak, dijamin yang terkena tempelen maut itu merasakan kelembutan susu alami. Bukan susu kaleng.


                Nah, dengan tersedianya begitu banyak teknologi tipu daya, perempuan yang memilih tidak memakai beha sesungguhnya adalah perempuan yang jujur.


Bersambung ke halaman berikut ini







Share:

11 Alasan Mengapa Anda TIdak Pakai Bra (Beha/Kutang) 2


4.    Wanita tradisional. Memang bukan gadis jujur saja yang bisa tak pakai kutang. Wanita yang setia pada nilai tradisi pun bisa tak berbeha. Misalnya, perempuan-perempuan Bali pada masa Covarrubias atau Antonio Blanco pertama kali bekunjung. Pada masa itu, pedesaan Bali dan Jawa, wanita biasa bertelanjang dada. Masyarakat biasa-biasa saja dengan susu yang membusung maupun menggantung. Mereka menerimanya sebagai keindahan yang wajar. Para pendatanglah yang cengar-cengir, tersipu-sipu, atau horny sendiri melihat itu. Sampai-sampai, penduduk menjadi jengah dan mulai menutup dadanya. Begitu pula suku-suku pedalaman, seperti di Papua atau Kalimantan, mereka tidak mengenal beha dan mereka baik-baik saja. Tetek yang dibiarkan terbuka tak pernah membikin kekacuan dunia.

5.    Perempuan pemberontak. Sebagian perempuan memilih tak pakai beha sebagai pemberontakan terhadap kapitalisme dan patriarki. Ini dimulai para feminis di barat dengan gerakan no bra oleh para aktivis Women’s Lib di tahun 70-an. Mereka beranggapan bahwa perempuan telah terlalu dikekang. Antara lain oleh beha dan korset. Beha dan korset membuat tubuh perempuan terbelenggu, secara fisik dan psikologis. Korset dan bra membuat perempuan dapat dan harus tampil dengan dada montok dan pinggang sempit. Belum lagi, industry beha diuntungkan dengan keinginan dan keharusan bertubuh gitar. Bayangkan keuntungan perusahaan kutang jika sepertiga dari lima milyar penduduk dunia ini memakai beha dan mereka ganti setiap hari dengan siklus tiga hari. Berarti, diperlukan sekitar 5 milyar kutang juga setiap tiga hari! Semakin perempuan mengekang teteknya, semakin untung perusahaan.

Nilai yang tak masuk akal serta akibatnya yang merugikan perempuan dilawan oleh beberapa feminis dengan gerakan no bra. Lepaskan behamu dan biarkan tubuhmu bebas (dan jangan menambah keuntungan kaum industry kutang)! Gerakan ini sempat menular, dalam bentukk sedikit berbeda, ke Bandung di tahun 70-an, dengan adanya Oreksas dan ATD : Organisasi Seks Bebas dan Anti Tjelana Dalam. Akibatnya, orang-orang dari luar Bandung membayangkan para mojang priangan yang terkenal berkulit kuning langsat naik becak tanpa celana dalam. Padahal, sayangnya, tak ada yang bisa membuktikan. Ide Oreksas dan ATD barangkali hanya sebatas wacana yang digembar-gemborkan majalah Aktuil pimpinan Remy Silado si penyair mbeling di tahun 70-an. Gerakan ATD ini bisa dibilang gagal dari segi marketing. Sebab tak ada merek lingerie yang mau beriklan di sana.

6.   Anggota kelompok nudis. Masyarakat nudis atau telanjang, yang terdapat di beberapa tempat di Eropa, juga merupakan masyarakat yang menantang modernism. Jadi, ada semangat pemberontakan juga di sana. Mereka beranggapan bahwa modernism telah begitu menjauhkan manusia dari alam, membuat manusia tidak wajar lagi. Contohnya ya itu tadi: peradaban malah membuat manusia tak bisa lagi jalan-jalan tanpa pakaian meskipun di musim panas, manusia tak lagi santai dan wajar dengan bagian-bagian tubuhnya. Bukankah mamalia lain tidak mengenakan pakaian dan tak pernah ada pemerkosaan dalam bangsa hewan! Kaum nudis ingin mengembalikan kewajaran itu. Sementara, orang-orang yang pikirannya penuh nafsu justru melihat kaum ini sebagai pengumbar aurat. Padahal, tujuan kaum nudis ini lumayan mulia juga.

7.     Cewek cuek. Salah satu alasan untuk tidak melakukan sesuatu adalah tidak peduli. Salah satu alasan untuk tidak memakai beha adalah tidak peduli. Cewek cuek bersikap peduli setan dengan nilai-nilai, dengan pandangan orang, dan dengan bentuk payudara. Mereka tak ingin tampak wah dengan menggunakan push up bra atau membuat lelaki tersipu-sipu dengan tidak mengenakan bra. Mereka semata-mata tidak peduli.

8.   Gadis baik-baik yang tak ingin mengecewakan calon pacar. Jika gadis jujur tidak ingin membohongi diri sendiri mengenai ukuran payudaranya, gadis baik-baik tidak ingin membohongi calon pacar.
      Ada satu pengalaman seorang kawan wanita. Pernah dia menikmati betul memakai beha dengan sumpal busa yang membuat payudaranya dua nomor lebih besar. Dia menikmati mata yang memandang perbandingan dada dan pinggang dengan cemburu (atau dia kira cemburu – barangkali sesungguhnya mereka sudah curiga). Sampai suatu kali dia bertemu dengan seorang lelaki dan saling tahu bahwa akan berkencan juga akhirnya. Begitulah, pada kesempatan makan malam pertama, dia telah meninggalkan busa beha itu, meskipun belum meninggalkan behanya – barangkali, karena berharap ada kesempatan kedua. Kesempatan kedua tak pernah ada. Karena mereka telah terlanjur bercinta di kesempatan pertama. Apapun, tujuannya baik-baik. Agar jangan pacarnya merasa membeli kucing dalam kutang.


Share:

Definition List

Unordered List

Support