Tarot versi Gilded
maka blog ini diberi judul tarot & art. The Gilded Tarot is a digitally drawn and visually sumptous Rider-Waite style tarot from the talented Ciro Marchetti. The 78 card deck is available from Llewellyn as well as in a handmade edition.
Rider-Waite Tarot
The Rider-Waite Tarot is a classic Tarot deck, perhaps the most well-known in the Western world. It is often called the first modern Tarot deck, as the cards drawn by Pamela Colman-Smith and commissioned by Waite were the first to use detailed pictures on the minor arcana cards
A Night Watch
Rembrandt van Rijn
Seni Meracik minuman keras
Para Bartender wanita sedang beradu keahlian meramu koktail
Di Lorong Ku Menatap
Yang ini jelas foto profil saya to
Tuesday, July 6, 2010
Bagaimana Kartu Tarot Bekerja ?
Cara Kerja Tarot
Orang bertanya, bagaimana sebenarnya Tarot bekerja. Bagaimana mungkin setumpuk kartu yang dikocok dan ditebarkan dapat menjawab dan menjelaskan permasalahan. Apakah ada unsur magic di sana? Apakah ada kekuatan supranatural di sana? Sekali lagi saya tegaskan bahwa pembacaan Tarot adalah murni logik.
Untuk memudahkan penjelasan, saya menganalogikan Tarot dengan kuisioner yang biasa dipakai orang HRD atau Psikolog dalam menerima karyawan. Selain wawancara, biasanya para calon karyawan menjalani Psiko test yang berisi pertanyaan psikologi untuk mengukur kecerdasan dan kemampuan mereka bekerja. Pertanyaan yang sama, bagaimana mungkin seorang HRD atau Psikolog mengambil kesimpulan bahwa si A rajin dan cocok bekerja di bawah tekanan sedangkan si B malas dan cenderumg tidak jujur?
Kalau pertayaan itu ditujukan kepada HRD atau Psikolog , mereka akan menjawab kesimpulan itu didapat dari hasil kuisioner tersebut. Ada cara menghitung dan menyimpulkan sedemikian rupa sehingga dari hasil jawaban para calon karyawan itu dapat diperkirakan bagaimana karakter mereka dan apakah mereka layak diterima atau tidak.
Sama halnya dengan tarot. Dari hasil kartu yang diambil klien, kita menghitung dan menyimpulkan sedemikian rupa sehingga kita bisa tahu kira-kira bagaimana jalan keluar yang harus diambil klien kita.(LBP)
Salam Anget
Mari Berkenalan dengan Tarot (2)
Arkana Minor
Bagian ini merupakan penjelasan dan pendukung dari Arkana Mayor. Mempunyai makna tentang perilaku sehari-hari dan kelas sosial manusia. Berjumlah 56 kartu dan dibagi dalam 4 bagian lambang. Pada perkembangannya, Arkana Mayor ini juga dikenal orang sebagai kartu Remi/Bridge dengan mengurangkan 4 kartu page/knave/princess menjadi 52 kartu. Lambang itu adalah sebagai berikut:
1. Wand atau Tongkat Sihir.
Unsur : Api
Kartu Remi : Sekop atau Waru
Kelas sosial : Kaum pekerja, buruh dan tani
2. Pentacles atau Koin
Unsur : Tanah/ Bumi
Kartu Remi : Wajik atau Diamond
Kelas sosial : Pedagang
3. Sword atau Pedang
Unsur : Udara/Angin
Kartu Remi : Semanggi atau Kriting
Kelas sosial : Kaum bangsawan, tentara, orang pemerintahan, aparat
4. Cup atau Chalices atau Piala
Unsur : Air
Kartu Remi : Hati
Kelas sosial : Kaum rohaniwan, paranormal, orang spiritual
Beberapa terbitan tarot kadang-kadang menggunakan penamaan yang berbeda pada lambang tersebut. Penamaan yang sering digunakan adalah Wand, Pentacles, Sword dan Cup. Saya sengaja memberikan penamaan padanan agar pembaca bisa dengan mudah menyesuaikannya dengan dek tarot nya masing-masing. (LBP)
Salam Anget
Thursday, June 3, 2010
Dukungan Amerika Serikat pada Israel
AS telah mem-veto banyak resolusi Dewan Keamanan PBB yang membatasi hegemoni Israel, memasok negara Yahudi tersebut dengan lebih banyak bantuan per penduduknya daripada negara manapun di dunia, mempersenjatainya dengan persenjataan yang terlarang bagi negara lain, dan kelihatannya akan tetap bias terhadap Israel. Cinta buta terhadap Israel didorong bukan berdasarkan jajak pendapat publik di AS, bukan juga berdasarkan pemahaman mendalam warga negaranya, rakyat biasa Amerika, tentang Timur Tengah. Ia adalah manifestasi dari kekuasaan Komite Kemasyarakatan Israel Amerika, lebih dikenal sebagai AIPAC, atau lobi Israel.
Tanpa diketahui oleh orang Arab hampir di manapun, rakyat biasa Amerika tidak tahu banyak tentang Timur Tengah, tentang Palestina, Irak atau Lebanon. Sebelum 11/9, rakyat biasa Amerika tidak tahu banyak tentang wilayah tersebut dan masih belum cukup tahu.
Orang Amerika memilih perwakilan mereka di Kongres dan Senat untuk mewakili suara mereka, dan hanya peduli dengan politik dan kebijakan dalam negeri. Dalam negara demokrasi, tidak seperti halnya kediktatoran di mana setiap orang adalah ahli politik, rakyat menyerahkan urusan politik ke tangan politisi dan meneruskan kehidupan mereka. Ketika memilih seorang presiden, ekonomi menjadi pertimbangan pertama.
Bangsa Arab umumnya, yang memandang AS benar-benar bias menyangkut Israel, tidak dapat memahami kenyataan ini dapat mengindahkan tujuan-tujuan yang mereka percaya benar, akhirnya menyalahkan rakyat Amerika. Untuk menjelaskan kebijakan ganas AS terhadap Israel, bangsa Arab menciptakan konspirasi Amerika dan berbicara tentang keinginan Amerika untuk mengendalikan minyak dan wilayah mereka. Arab akhirnya mengambil pendekatan jalan pintas, menyebut rakyat AS setan besar, sebuah tuduhan yang tidak berdasar.
Apa yang Arab umumnya gagal pahami adalah bahwa pendapat publik di AS tidak berarti apa-apa, tujuan mereka yang benar tidak penting artinya, dan bahwa setiap tindakan dan lobi mereka, jika tidak diarahkan kepada mesin politik AS, tidak akan dapat membawa perubahan apapun. Masyarakat Amerika benar-benar tidak tahu, tidak ingin tahu, dan bahkan kalaupun mereka tahu, sikap mereka akan acuh tak acuh seperti di Eropa. Ini adalah sebuah kesimpulan yang menyedihkan tetapi benar adanya. Negara-negara UE, karena salah satu penyebab adalah kedekatan mereka dengan wilayah tersebut, mengetahui lebih banyak tentang permasalahannya dan biasanya tidak terlalu terpengaruh oleh bias liputan dan pandangan media, tetapi paling hanya memberikan janji belaka. Dukungan Eropa tidak menjelma menjadi dukungan bagi tujuan-tujuan Arab yang benar seperti pelaksanaan Resolusi PBB 242, penarikan mundur pasukan dari daerah pendudukan, dan penghentian kekerasan terhadap Lebanon. Sebuah pendapat publik pro-Arab di AS paling-paling hanya dapat memberikan hasil dan simpati yang sama.
Apa yang dibutuhkan sebenarnya adalah sebuah pemerintah AS yang mendukung berbagai tujuan Arab. Jawabannya dapat ditemukan dalam suatu bentuk yang sama dengan AIPAC, kekuatan di balik kekuasaan Israel. Didirikan pada 1953 sebagai Komite Kemasyarakatan Zionis Amerika, dengan tujuan tertulis untuk melakukan lobi terhadap Kongres AS mengenai isu-isu dan peraturan yang mendukung kepentingan terbaik Israel dan Amerika Serikat, AIPAC, dengan keanggotaan saat ini mencapai 100.000 orang, bertemu secara rutin dengan para anggota Kongres dan melaksanakan berbagai kegiatan di mana mereka dapat membagi pandangannya dengan mereka. Ia menganalisis catatan-catatan pemungutan suara dari perwakilan federal AS dan para senator dengan mempertimbangkan bagaimana mereka memberikan suara bagi peraturan yang berhubungan dengan Israel; ia tak pernah melupakan atau memaafkan; dan ia hanya mendukung para kandidat Kongres yang mendukung Israel. Antara 1978 dan 2000, AIPAC telah menyumbang secara langsung hampir US$35 juta kepada 1.732 kandidat Kongres. Bantuan resmi dari AS ke Israel sejak 1948 telah melampaui US$103 miliar.
Kekuasaan AIPAC diwujudkan dalam dukungan yang diperolehnya bagi Israel di kalangan Kongres dan pemerintahan Gedung Putih sejak 1960-an. Para kandidat Kongres dan mereka yang masih menjabat yang pro-Israel menerima pendanaan kampanye dan publisitas yang positif melalui afiliasi-afiliasi AIPAC yang tak terhitung banyaknya, saluran-saluran organisasi dan media, sementara para politisi yang tidak mendukung kebijakan-kebijakan yang menguntungkan Israel menjadi sasaran untuk digantikan dengan mereka yang pro-Israel. AIPAC tidak pernah melupakan; untuk masuk daftar hitam yang perlu dilakukan seseorang adalah memberikan suara yang tidak mendukung bagi sebuah kebijakan pro-Israel. Dukungannya dalam berbagai kampanye yang berlangsung ketat dapat menentukan hasilnya. Anggota Kongres mengetahui hal ini dan mereka mendengar dan bertindak sesuai alasan tersebut. Masyarakat tidak peduli tentang bagaimana para wakil mereka memberikan suara dalam isu-isu Timur Tengah hanya karena isu-isu tersebut tidak penting bagi mereka dan tidak mempengaruhi hidup keseharian mereka.
Sadar akan kekuasaan AIPAC dan kemampuannya untuk memobilisasi para anggota Kongres, Gedung Putih menarik garis jika tidak perundang-undangan domestik yang penting tidak akan pernah disetujui. Ketika selisihnya ketat, setiap suara anggota Kongres menjadi penting. Ketika seorang presiden AS mempunyai sebuah agenda tentang isu di Timur Tengah, dia tahu bahwa dukungan Kongres dapat diperoleh melalui AIPAC. Ketika seorang presiden mengambil sikap keras terhadap Israel, dia tahu bahwa agenda domestiknya akan menghadapi lebih banyak rintangan daripada yang dia dapat tangani di Kongres. Lebih buruk lagi, pada saat pemilihan kembali datang, dia pasti akan menderita kekalahan jika tidak mendukung Israel. Singkatnya, adalah sebuah bunuh diri politik untuk melawan AIPAC, khususnya bagi pemerintah Gedung Putih yang lemah.
Karena itu, Arab tidak seharusnya terkejut ketika pada 18 Juli Senat secara aklamasi mendukung suatu resolusi tidak mengikat "mengutuk Hamas dan Hisbullah dan negara-negara sponsor mereka dan mendukung hak Israel untuk melakukan pembelaan diri." Menurut mantan Penasihat
Keamanan Nasional pada pemerintahan Carter, Zbigniew Brzezinski, AIPAC boleh dibilang menulis resolusi tersebut.
Kesimpulannya adalah jika Arab menginginkan peluang yang lebih adil dari pemerintah AS mereka harus memiliki lobi yang sama efektif dan kuatnya di Washington, daripada mengandalkan pendapat publik. Pendapat publik di AS adalah tidak relevan – ia tidak pernah berarti, dan itu sudah terjadi sejak dulu.
Sumber : Yusuf Mansur
Tanpa diketahui oleh orang Arab hampir di manapun, rakyat biasa Amerika tidak tahu banyak tentang Timur Tengah, tentang Palestina, Irak atau Lebanon. Sebelum 11/9, rakyat biasa Amerika tidak tahu banyak tentang wilayah tersebut dan masih belum cukup tahu.
Orang Amerika memilih perwakilan mereka di Kongres dan Senat untuk mewakili suara mereka, dan hanya peduli dengan politik dan kebijakan dalam negeri. Dalam negara demokrasi, tidak seperti halnya kediktatoran di mana setiap orang adalah ahli politik, rakyat menyerahkan urusan politik ke tangan politisi dan meneruskan kehidupan mereka. Ketika memilih seorang presiden, ekonomi menjadi pertimbangan pertama.
Bangsa Arab umumnya, yang memandang AS benar-benar bias menyangkut Israel, tidak dapat memahami kenyataan ini dapat mengindahkan tujuan-tujuan yang mereka percaya benar, akhirnya menyalahkan rakyat Amerika. Untuk menjelaskan kebijakan ganas AS terhadap Israel, bangsa Arab menciptakan konspirasi Amerika dan berbicara tentang keinginan Amerika untuk mengendalikan minyak dan wilayah mereka. Arab akhirnya mengambil pendekatan jalan pintas, menyebut rakyat AS setan besar, sebuah tuduhan yang tidak berdasar.
Apa yang Arab umumnya gagal pahami adalah bahwa pendapat publik di AS tidak berarti apa-apa, tujuan mereka yang benar tidak penting artinya, dan bahwa setiap tindakan dan lobi mereka, jika tidak diarahkan kepada mesin politik AS, tidak akan dapat membawa perubahan apapun. Masyarakat Amerika benar-benar tidak tahu, tidak ingin tahu, dan bahkan kalaupun mereka tahu, sikap mereka akan acuh tak acuh seperti di Eropa. Ini adalah sebuah kesimpulan yang menyedihkan tetapi benar adanya. Negara-negara UE, karena salah satu penyebab adalah kedekatan mereka dengan wilayah tersebut, mengetahui lebih banyak tentang permasalahannya dan biasanya tidak terlalu terpengaruh oleh bias liputan dan pandangan media, tetapi paling hanya memberikan janji belaka. Dukungan Eropa tidak menjelma menjadi dukungan bagi tujuan-tujuan Arab yang benar seperti pelaksanaan Resolusi PBB 242, penarikan mundur pasukan dari daerah pendudukan, dan penghentian kekerasan terhadap Lebanon. Sebuah pendapat publik pro-Arab di AS paling-paling hanya dapat memberikan hasil dan simpati yang sama.
Apa yang dibutuhkan sebenarnya adalah sebuah pemerintah AS yang mendukung berbagai tujuan Arab. Jawabannya dapat ditemukan dalam suatu bentuk yang sama dengan AIPAC, kekuatan di balik kekuasaan Israel. Didirikan pada 1953 sebagai Komite Kemasyarakatan Zionis Amerika, dengan tujuan tertulis untuk melakukan lobi terhadap Kongres AS mengenai isu-isu dan peraturan yang mendukung kepentingan terbaik Israel dan Amerika Serikat, AIPAC, dengan keanggotaan saat ini mencapai 100.000 orang, bertemu secara rutin dengan para anggota Kongres dan melaksanakan berbagai kegiatan di mana mereka dapat membagi pandangannya dengan mereka. Ia menganalisis catatan-catatan pemungutan suara dari perwakilan federal AS dan para senator dengan mempertimbangkan bagaimana mereka memberikan suara bagi peraturan yang berhubungan dengan Israel; ia tak pernah melupakan atau memaafkan; dan ia hanya mendukung para kandidat Kongres yang mendukung Israel. Antara 1978 dan 2000, AIPAC telah menyumbang secara langsung hampir US$35 juta kepada 1.732 kandidat Kongres. Bantuan resmi dari AS ke Israel sejak 1948 telah melampaui US$103 miliar.
Kekuasaan AIPAC diwujudkan dalam dukungan yang diperolehnya bagi Israel di kalangan Kongres dan pemerintahan Gedung Putih sejak 1960-an. Para kandidat Kongres dan mereka yang masih menjabat yang pro-Israel menerima pendanaan kampanye dan publisitas yang positif melalui afiliasi-afiliasi AIPAC yang tak terhitung banyaknya, saluran-saluran organisasi dan media, sementara para politisi yang tidak mendukung kebijakan-kebijakan yang menguntungkan Israel menjadi sasaran untuk digantikan dengan mereka yang pro-Israel. AIPAC tidak pernah melupakan; untuk masuk daftar hitam yang perlu dilakukan seseorang adalah memberikan suara yang tidak mendukung bagi sebuah kebijakan pro-Israel. Dukungannya dalam berbagai kampanye yang berlangsung ketat dapat menentukan hasilnya. Anggota Kongres mengetahui hal ini dan mereka mendengar dan bertindak sesuai alasan tersebut. Masyarakat tidak peduli tentang bagaimana para wakil mereka memberikan suara dalam isu-isu Timur Tengah hanya karena isu-isu tersebut tidak penting bagi mereka dan tidak mempengaruhi hidup keseharian mereka.
Sadar akan kekuasaan AIPAC dan kemampuannya untuk memobilisasi para anggota Kongres, Gedung Putih menarik garis jika tidak perundang-undangan domestik yang penting tidak akan pernah disetujui. Ketika selisihnya ketat, setiap suara anggota Kongres menjadi penting. Ketika seorang presiden AS mempunyai sebuah agenda tentang isu di Timur Tengah, dia tahu bahwa dukungan Kongres dapat diperoleh melalui AIPAC. Ketika seorang presiden mengambil sikap keras terhadap Israel, dia tahu bahwa agenda domestiknya akan menghadapi lebih banyak rintangan daripada yang dia dapat tangani di Kongres. Lebih buruk lagi, pada saat pemilihan kembali datang, dia pasti akan menderita kekalahan jika tidak mendukung Israel. Singkatnya, adalah sebuah bunuh diri politik untuk melawan AIPAC, khususnya bagi pemerintah Gedung Putih yang lemah.
Karena itu, Arab tidak seharusnya terkejut ketika pada 18 Juli Senat secara aklamasi mendukung suatu resolusi tidak mengikat "mengutuk Hamas dan Hisbullah dan negara-negara sponsor mereka dan mendukung hak Israel untuk melakukan pembelaan diri." Menurut mantan Penasihat
Keamanan Nasional pada pemerintahan Carter, Zbigniew Brzezinski, AIPAC boleh dibilang menulis resolusi tersebut.
Kesimpulannya adalah jika Arab menginginkan peluang yang lebih adil dari pemerintah AS mereka harus memiliki lobi yang sama efektif dan kuatnya di Washington, daripada mengandalkan pendapat publik. Pendapat publik di AS adalah tidak relevan – ia tidak pernah berarti, dan itu sudah terjadi sejak dulu.
Sumber : Yusuf Mansur
Konflik Israel - Palestina
Konflik ini dimulai setelah perang dunia kedua. Ketika masyarakat Israel (yahudi) berpikir untuk memiliki negara sendiri (menurut sejarah mereka keluar dari tanah israel setelah perang salib karena dituduh pro-kristen oleh tentara islam, yang kemudian ditinggali oleh orang-orang filistin atau palestine).
Pikiran berbentuk zionisme yang didorong oleh genosida oleh NAZI pada perang dunia kedua. pilihan letak negara itu tentu saja adalah tanah leluhur mereka yang pada saat itu merupakan tanah jajahan inggris. karena secara leluhur mereka memilikinya tapi juga secara religius beberapa tempat keagamaan Yahudi ada disana.
Meskipun tidak secara terbuka, negara-negara barat setuju dan mendukung(alasannya karena sebelum orang palestina tinggal disana, tanah itu adalah milik israel). sebaliknya negara-negara arab berargumen bahwa adalah karena jerman yang melakukan genosida maka tanah jermanlah yang harus disisihkan untuk dijadikan negara yahudi.
Dibalik semua intrik politik dan keuntungan dan kerugian politik, strategis , dll. inggris secara sukarela mundur dari negara dan memberikan siapa saja untuk mengklaimnya. Berhubung israel lebih siap maka mereka lebih dahulu memproklamirkan negara,
Sebaliknya orang-orang palestina yang telah tinggal dan besar di sana tidak mau terima mejadi bagian negara Yahudi (dalam literatur doktrin Islam pemimpin negara harus seorang Muslim), sehingga bangsa Israel kemudian melihat orang palestina sebagai ancaman dalam negeri, begitu juga dengan bangsa palestina yang menganggap Israel sebagai penjajah baru. Hasilnya bisa ditebak, perang dan konflik yang telah berbelit-belit. yang sebenarnya adalah urusan antara dua negara/bangsa menjadi konflik antara agama (Yahudi vs. Islam) belum lagi stabilitas kawasan timur tengah dan ikut campur Amerika dengan kebijakan MINYAK mereka.
Jadi sebenarnya masalah dasarnya tidak ada hubungannya dengan orang palestina itu beragama Islam atau orang israel itu beragama Yahudi, tapi masalahnya adalah tanah dan kekuasaan.
Pikiran berbentuk zionisme yang didorong oleh genosida oleh NAZI pada perang dunia kedua. pilihan letak negara itu tentu saja adalah tanah leluhur mereka yang pada saat itu merupakan tanah jajahan inggris. karena secara leluhur mereka memilikinya tapi juga secara religius beberapa tempat keagamaan Yahudi ada disana.
Meskipun tidak secara terbuka, negara-negara barat setuju dan mendukung(alasannya karena sebelum orang palestina tinggal disana, tanah itu adalah milik israel). sebaliknya negara-negara arab berargumen bahwa adalah karena jerman yang melakukan genosida maka tanah jermanlah yang harus disisihkan untuk dijadikan negara yahudi.
Dibalik semua intrik politik dan keuntungan dan kerugian politik, strategis , dll. inggris secara sukarela mundur dari negara dan memberikan siapa saja untuk mengklaimnya. Berhubung israel lebih siap maka mereka lebih dahulu memproklamirkan negara,
Sebaliknya orang-orang palestina yang telah tinggal dan besar di sana tidak mau terima mejadi bagian negara Yahudi (dalam literatur doktrin Islam pemimpin negara harus seorang Muslim), sehingga bangsa Israel kemudian melihat orang palestina sebagai ancaman dalam negeri, begitu juga dengan bangsa palestina yang menganggap Israel sebagai penjajah baru. Hasilnya bisa ditebak, perang dan konflik yang telah berbelit-belit. yang sebenarnya adalah urusan antara dua negara/bangsa menjadi konflik antara agama (Yahudi vs. Islam) belum lagi stabilitas kawasan timur tengah dan ikut campur Amerika dengan kebijakan MINYAK mereka.
Jadi sebenarnya masalah dasarnya tidak ada hubungannya dengan orang palestina itu beragama Islam atau orang israel itu beragama Yahudi, tapi masalahnya adalah tanah dan kekuasaan.
Thursday, May 20, 2010
Mari Berkenalan dengan Tarot (1)
Pengenalan Tarot
Tarot yang kita kenal sekarang pada umumnya terdiri dari 78 kartu. Dibagi menjadi 2 bagian penting, yaitu Arkana Mayor/Utama/Besar dan Arkana Minor/Penunjang/Kecil. Ada beberapa desain tertentu tarot yang menambahkan 3 kartu pada Arkana Mayornya, tapi itu tidak akan kita bahas di sini karena sangat jarang sekali ditemukan Dek Tarot dengan jumlah 81. Kadang-kadang ada suatu terbitan tarot yang hanya berisi 22 atau 25 kartu. Itu berarti mereka hanya menggunakan Arkana Mayor saja tanpa menyertakan Arkana Minor.
Arkana Mayor
Lebih bercerita tentang perjalanan hidup manusia dan sifat-sifat manusia. Biasanya setiap kartunya memiliki makna yang lugas (sesuai dengan lambang gambar yang ditunjukkannya) sehingga mudah untuk pembaca mengartikan kartunya. Untuk pemula disarankan melatih intuisinya dengan menggunakan Arkana Mayor.
Terdiri dari 22 kartu. Setiap kartu mempunyai angka urutan. Dimulai dari angka 0 untuk lambang The Fool dan diakhiri angka 21 untuk lambang The World. Urutan yang biasa digunakan untuk Arkana Mayor adalah sebagai berikut :
0 The Fool atau Si Bodoh
1 The Magician atau Pesulap/Tukang Sihir
2 The High Priestess/Venerable Woman/Papess atau Pendeta Perempuan
3 The Empress atau Ratu
4 The Emperor atau Kaisar
5 The Hierophant/Venerable Man/High Priest/Pope atau Pendeta Laki-laki
6 The Lovers atau Pecinta
7 The Chariot atau Kereta Perang
8 Strength atau Kekuatan
9 The Hermit atau Pertapa
10 The Wheel of Fortune atau Roda Keberuntungan
11 Justice atau Keadilan
12 The Hanged Man atau Orang yang Tergantung
13 Death atau Kematian
14 Temperance atau Kesederhanaan
15 The Devil atau Iblis
16 The Tower atau Menara
17 The Star atau Bintang
18 The Moon atau Bulan
19 The Sun atau Matahari
20 Judgment atau Pengadilan
21 The World atau Dunia
Penomoran tersebut di atas adalah yang biasa digunakan oleh banyak literatur dan banyak kartu Tarot. Ada beberapa terbitan Tarot yang mempunyai sedikit perbedaan penomoran. Misalnya nomer 8 kadang diisi oleh Justice (beberapa kartu menyebutnya Harmony) sedangkan nomer 11 diisi oleh Strength. Tidak ada yang bisa disalahkan atau dianggap lebih benar. Yang jelas bila pembaca Tarot sudah mengetahui urutan penomoran dan lambang yang baku yang biasa dipakai kebanyakan kartu tarot, maka bila ada sedikit perubahan tidak akan terlalu mengganggu.
Diharapkan selain menghapal makna lambangnya, pembaca tarot juga menghapal nomer urutannya juga. Karena ada juga terbitan kartu tarot yang hanya mencantumkan angka pada Arkana Mayornya tanpa menyebutkan lambangnya.
(LBP)
Salam Anget
Wednesday, May 19, 2010
Belajar Tarot itu Gampang
Apa sih yang ada dipikiran orang di negeri kita bila mendengar kata “Tarot”? Ada yang bilang,”Oh, yang ngramal itu ya?” atau,”Saya tahu, yang buat ngramal kan?”. Ada pula yang menyelutuk,”Tarot itu ada hubungannya dengan Mak Erot, yang buat ngegedeein ‘anu’ khan?” (gara-gara berima sama dengan akhiran ‘ot’ orang menyangka tarot ada hubungannya dengan Mak Erot.).
Ternyata sebagian besar orang mengidentikan ilmu tarot dengan ramal-meramal. Sebenarnya agak kurang tepat. Salah satu fungsi tarot adalah prediksi masa depan dan itulah yang dianggap sebagian besar orang sebagai ramalan.
Untuk bisa membaca tarot (dikatakan “membaca” karena memang mempunyai makna lugas membaca) tidak perlu harus punya indra keenam, bertapa, puasa atau melakukan hal-hal yang berbau supranatural. Orang hanya cukup menghapal (lebih tepatnya : memahami) makna 78 kartu dan berlatih. Itu saja? Ya, itu saja. Semakin bagus hapalannya/pemahamannya makin bagus juga bacaan kartunya. Semakin sering berlatih makin tajam juga si pembaca tarot menjawab pertanyaan klien.
Hanya begitu saja. Mudah kan? Membaca tarot memang mudah, jangan dibuat sulit.
Selamat belajar dan berlatih. Semoga Anda bisa menjadi Tarot Reader (pembaca tarot) yang handal.
(LBP)
Salam Tarot
Leo Bagus Pranata
Tarot Reader
Datanglah padaku yang letih dan lesu. Come to Papa......!!!
Saatnya MInum Kopi
Empat ibu beragama Katolik, sedang duduk2 di cafe sambil mengobrol.
Ibu pertama dengan bangga bercerita ttg anaknya,
"Anakku seorang Pastor. Pada saat dia masuk ke suatu ruangan, setiap orang memanggilnya 'Bapa'."
Ibu kedua tak mau kalah,
"Anakku seorang Uskup. Tiap kali dia masuk ke suatu ruangan, orang2 memanggilnya 'Uskup yg terberkati'. "
Ibu ketiga jg bercerita,
"Anakku seorang Kardinal. Tiap kali dia msk suatu ruangan, orang2 memanggilnya 'Kardinal yg suci'.
Krn ibu keempat diam saja, ketiga ibu tadi scr bersamaan bertanya,
"Bagaimana dg anakmu?"
Jawab ibu keempat,
"Anakku tinggi 180 cm, dia eksekutif muda yang sukses, dadanya bidang, sexy, lengan berotot, ramah, tampan, dan selalu berpakaian trendy.
Tiap kali dia masuk ke suatu ruangan, seluruh wanita berkata "Ooh my God.......!!"
Ibu pertama dengan bangga bercerita ttg anaknya,
"Anakku seorang Pastor. Pada saat dia masuk ke suatu ruangan, setiap orang memanggilnya 'Bapa'."
Ibu kedua tak mau kalah,
"Anakku seorang Uskup. Tiap kali dia masuk ke suatu ruangan, orang2 memanggilnya 'Uskup yg terberkati'. "
Ibu ketiga jg bercerita,
"Anakku seorang Kardinal. Tiap kali dia msk suatu ruangan, orang2 memanggilnya 'Kardinal yg suci'.
Krn ibu keempat diam saja, ketiga ibu tadi scr bersamaan bertanya,
"Bagaimana dg anakmu?"
Jawab ibu keempat,
"Anakku tinggi 180 cm, dia eksekutif muda yang sukses, dadanya bidang, sexy, lengan berotot, ramah, tampan, dan selalu berpakaian trendy.
Tiap kali dia masuk ke suatu ruangan, seluruh wanita berkata "Ooh my God.......!!"






